LDR di mataku …

Okay, timeline Twitter ini isinya penuh dengan topik LDR (Long Distance Relationship)… Berhubung 140 karakter tidak cukup untuk menjelaskan posisi gw, gw tulis di blog aja deh ^^ Posisi gw jelas: gak setuju sama LDR. Kekecualian untuk yang sudah menikah, itupun menurut gw gak boleh terlalu lama. Banyak orang bilang jaman sekarang LDR udah gak masalah, karena teknologi. Ada broadband internet, ada Skype, Twitter, dll, dll. Tapi menurut gw, teknologi internet kayak apapun, tidak bisa menggantikan “kehadiran fisik”. Dan pendapat gw ini tidak hanya didasarkan pengalaman pribadi (pernah LDR gagal), tapi juga berdasarkan begitu banyak artikel biologi yang pernah gua baca.

Berbagai penelitian ilmiah telah membuka, walaupun baru sebagian, betapa kompleksnya hubungan antara pria-wanita. Dan kompleksitas itu juga mencakup aspek biologis. Dari hormon yang mempengaruhi bau yang tertangkap oleh pasangan, kekuatan sentuhan dan pelukan dalam menghasilkan zat penenang alami, sampai komunikasi non-verbal yang kompleks yang hanya bisa ditangkap bawah sadar. Dan semua ini memerlukan kedekatan fisik langsung, yang gak bisa digantikan koneksi 1 Gigabyte/second sekalipun. Tentunya gw gak bermaksud menjadi ‘fatalis’, yang beranggapan bahwa LDR “pasti” gagal. Gw percaya ada kekecualian, dan ada orang-orang yang bisa melakukannya dengan sukses. Ini hanya prinsip umum saja buat gw, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang-orang di sekitar gw. Gw sering ngeliat pasangan LDR yg akhirnya tumbang karena salah-satunya akhirnya jadi deket dengan orang lain yang memang secara fisik lebih dekat. Soalnya gw percaya spesies kita selama ratusan tibu tahun berhubungan dengan kedekatan fisik, dan pasti ada pengaruhnya ke evolusi cara kerja otak dan aspek biologis lain. Evolusi jutaan tahun ini tidak bisa dengan gampang digantikan teknologi internet dan komunikasi yang baru berkembang 20 tahun terakhir ini. Sekali lagi, ini lebih prinsip untuk pasangan yang belum menikah. Yang sudah menikah mungkin bisa ‘ditoleransi’ sedikit, tetapi tetep aja menurut gw gak boleh kelamaan sih…. Yah, gitu aja siiih pendapat gw…. Mau berbeda silahkaaan 😀

Spesies Paling Penakut

Takut mati, takut miskin, takut istri, takut suami, takut bos, takut bodoh, takut terlihat bodoh, takut diomongin, takut tetangga, takut penjahat, takut ditipu, takut mertua, takut menantu, takut menganggur, takut kawin, takut telat kawin, takut sendirian, takut jomblo, takut sukses, takut polisi, takut pacar, takut anjing, takut gelap, takut neraka, takut Tuhan, takut setan, takut telat, takut kecepetan, takut hamil, takut gak bisa hamil, takut pemerintah, takut ormas, takut teroris, takut bom, takut neraka, takut kalah, takut menang, dan sejuta rasa takut lainnya.

Kita adalah spesies tercerdas di planet ini, dan juga spesies dengan rasa takut terbanyak.

Tetapi, kita juga spesies dengan kisah keberanian terbanyak.

Dari yang menantang maut: si prajurit yang berani mati menembus desingan peluru, si pemadam kebakaran New York saat 9/11, orang asing yang terjun ke laut menyelamatkan orang tenggelam yang tak dikenalnya. Sampai yang menantang reputasi dan kecaman masyarakat: Martin Luther King yang melawan rasialisme, Ibu Siami yang membongkar praktik menyontek massal. Atau sampai hal-hal yang terkesan remeh sekalipun: si kecil yang berani masuk sekolah di hari pertama, ataupun si karyawan fresh graduate yang memberikan presentasi pertamanya.

Maka “Berani” adalah kata sifat yang membutuhkan “Takut”. Di dalam hidup yang tidak ada rasa takut, maka “berani” adalah konsep yang tidak berharga, tidak relevan, dan bahkan mungkin tidak ada. Jadi betul kata-kata bijak“Courage is not the absence of fear, it is the action despite of it”

Menjadi berani bukannya menghilangkan rasa takut. Menjadi berani adalah menjadi manusia yang tetap merasa takut, tetapi berkata “Persetan!”, “Kampretlah!”, memberikan jari tengah ke Hidup, dan tetap maju terus.

“Anak-anak bodoh”

Pagi tadi, gw melihat sekelompok anak bermain. Seorang anak duduk di atas sesuatu yang nampak seperti daun pisang kering. Kemudian anak yang lain berusaha menarik di daun pisang, seolah-olah menjadikan si daun pisang itu seperti kendaraan. Beberapa anak lain tampak mengerumuni dan tertawa. Tentunya berat sekali konsep kendaraan tanpa roda seperti itu, dan hasilnya ya majunya “ajrut-ajrutan”.

Pikiran pertama yang terlintas di pikiran gw “Anak-anak bodoh”. Ngapain melakukan hal yang begitu melelahkan dan jelas-jelas sia-sia?

Tetapi kemudian gw mikir lagi; apa yang mereka lakukan mungkin ‘bodoh’, tetapi mereka tampak bahagia dan lepas melakukannya. Isn’t that what really matters?

Kita yang sudah dewasa memang lebih pintar, lebih mengerti banyak hal, lebih “tahu” macam2. Tetapi justru karena itu kita tidak sebebas mereka si “anak-anak bodoh”. Dalam mengerjakan sesuatu, apa itu di kampus, pekerjaan, atau kehidupan sosial, kita sibuk berpikir “Gw keliatan bego gak ya?”, “Ini sudah cara yang paling canggih gak?”, “Apakah ini akan memberikan hasil maksimal?”, dan sejuta ‘pertimbangan dewasa’ lainnya. Dengan segala uang, jabatan, ijazah yang kita miliki, mungkin justru kita hidup di dalam “penjara yang tak kasat mata” (invisible prison).

“Anak-anak bodoh” prinsipnya hanya “just do it”, persetan dengan prinsip Fisika dan efisiensi energi, yang penting have fun dengan teman-teman. Dan dalam kebodohan itu mereka belajar sambil tertawa, dengan merdeka.

Mereka mungkin lebih “bodoh”, tapi mungkin mereka lebih bahagia.

(kenapa jg gw jadi mellow di kamar gini….ayo ayo ngelarin skripsi  :D )

 

Semua Yang Alami Itu Baik. Masak?

Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, kayaknya kalo sebuah produk makanan/minuman/obat mengklaim sebagai “alami”, maka asosiasinya adalah sehat, baik bagi tubuh manusia. Semua jamu pasti baik karena dibuat dari bahan alami. Semua obat Barat pasti jelek karena kimia. Alam = pasti baik. Buatan/artificial = pasti jahat. Tapi kalo dipikir-pikir, sebenarnya kalo kita betul-betul alami, justru banyak juga gak enaknya:

Kalo beneran alami, maka harusnya kita makan gak cuci tangan dulu. Karena bakteri/kuman itu alami kok…

Kalo mau alami, makanan gak perlu dimasak. Semua makanan dimakan mentah kayak sashimi gitu. Alami banget?

Kalo kena infeksi bakteri, atau kanker, jangan dikasih antibiotik/kemoterapi, karena bakteri dan sel kanker adalah ciptaan alam….

Kenyataannya, kalo kita beneran mau konsekuen dengan hidup ‘alami’, banyak dari kita yang tidak akan hidup lama. Cara ‘alami’ justru adalah persaingan dalam mempertahankan hidup, antara mangsa dan pemangsa, antara inang dan parasit, dll. Manusia sebagai spesies justru menguasai flora dan fauna lainnya karena melakukan ‘manipulasi’ melawan ‘alam’. Kita mengembangkan disinfektan agar kita tidak terinfeksi kuman, dari meja makan sampai meja operasi. Kita menciptakan perangkap/senapan agar selamat dari terkaman singa, harimau, beruang – anggota alam yang dengan senang hati mau menyantap kita. Mutasi sel yang berakibat kanker, flu burung, AIDS, juga adalah fenomena alami, yang kita lawan dengan teknologi pengobatan modern.

Jadi sejarah membuktikan bahwa tidak semua yang ‘alami’ itu baik untuk manusia. Kenyataannya, alam sangat berminat untuk menyantap atau ‘mencelakakan’ kita. Nothing personal, hanyalah bagian dari ‘circle of life’.

Belum lama ini ada artikel mengenai bagaimana Steve Jobs menyesali tidak segera melakukan langkah medis modern ketika dia didiagnosa dengan kanker pankreas. Sebaliknya, beliau mencoba dulu cara-cara alami: diet, menemui spiritualis, ramuan herbal, dll. Seandainya saja operasi dan tindakan medis modern dilakukan dengan lebih cepat, mungkin nyawanya bisa diselamatkan, minimal diperpanjang. (berita lengkapnya:http://www.guardian.co.uk/technology/2011/oct/21/steve-jobs-cancer-surgery-regret)

Tetapi gw sendiri percaya banyak hal dari alam itu memang baik. Makanan yang dimasak sendiri pasti lebih baik dari makanan proses dengan bahan pengawet dan pewarna. Udara pegunungan pasti lebih baik dari udara kalengan (AC) di gedung kantor. Dan masih banyak lagi. Tetapi untuk menganggap SEMUA yang alami adalah baik juga naif, dan melupakan sejarah spesies manusia adalah rangkaian keberhasilan ‘menaklukkan’ alam.

Tentang Memuji Brand.

Kadang2 di Twitter gw suka memuji brand/produk/jasa tertentu, dan biasanya selalu ada aja yang nuduh “twit berbayar”, padahal gw beneran memuji tanpa dibayar.

Gw juga pernah denger orang bilang, “Ih, males amat gw muji brand tertentu kalo gak dibayar, kan mereka jadi dapet promosi gratis”, dengan nada dan paras pamrihan. (Kebayang gak elu ‘paras pamrih’?)

Kalo prinsip pribadi gw, “fair” aja sih. Kalo gw gak segan2 mencela, mengkritik produk dan layanan yang jelek , maka to be fair harusnya juga gw nggak segan untuk memuji ketika merasakan produk dan layanan yang bagus.

Pertimbangan gw lainnya, selain “fairness”, adalah: sebenernya kita diuntungkan kalo kita nggak pelit memuji brand, biarpun nggak dibayar! Kok bisa? Nih gw jelasin prinsip sederhananya.

Kalo kita hepi dengan produk/jasa yang bagus, entah itu elektronik, restoran, baju, toko, dll, tentunya kita pengen produk/jasa yang bagus itu ada terus di masa depan, iya nggak? Misal nih, Ketika gw hepi banget dengan makanan dan layanan suatu restoran, artinya gw pengen restoran ini tetap ada di masa depan, supaya gw bisa balik lagi. Nah, dengan kita bantu promosiin, restoran ini semoga tetap/tambah ramai dikunjungi, bisnisnya makin baik, dan jadinya bisa tetap eksis. Simple, kan?

Dan prinsip yang sama berlaku dengan produk/jasa lainnya yang kita gunakan. Entah itu handphone, bank, sepatu, salon, dan lain-lainnya. Kalo kita hepi dengan suatu brand, kita juga diuntungkan kalo brand tersebut gak bangkrut keesokan harinya, jadi gak ada salahnya membantu mempromosikan bisnisnya, biarpuh gak dibayar. Selain itu, dengan pujian, pihak produsen juga mendapat feedback hal-hal apa yang telah mereka lakukan dengan benar, dan harus tetap dilakukan (selain hal-hal yang harus mereka hentikan, melalui hujatan/kritikan).

Kalau prinsip ini dikembangkan lagi, penerapannya juga bisa lebih dari sekedar barang/jasa komersil. Siapa sih yang nggak cepet ngomel atau ngeledek kalo ada aparat pemerintah/wakil rakyat yang korup atau ngaco? (Renovasi ruang rapat Banggar, anyone?) Dan inilah satu anugerah Reformasi, ketika kita bebas mengkritik, menyindir, memprotes pelanggaran atau penyimpangan pemerintah/parlemen/ yudikatif, tanpa harus was-was. (Buat yang gak pernah ngerasain hidup di Orba, beeuh, salah ngomong dikit tentang pemerintah yang pria bisa berubah jenis kelamin jadi wanita dalam semalem…disunat lagi cyiiin!) Nah, kebebasan ini harusnya dipakainya “fair” juga, menurut gw. Kalo ada yang salah dicela, kalo pas ada yang bagus, ya harusnya dipuji juga. Sekalian buat feedback.

Tapi gw ngerti, tendensi manusia itu lebih gampang ngomel/marah/nyela, daripada memuji. Jadi memang memuji itu perlu latihan kali ya :)

(dan who knows, latihan memuji itu bagus juga untuk relationship. Pacar/istri/suami jangan cuma dimarahin aja kalo bikin salah, tapi dipuji kalo pas melakukan hal yang bagus. Minimal dilempar biskuit….)hihihi

Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan

Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini.

Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” gak sih? :D ), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius :)

Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Boy”? :D ) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Boy sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para bapak/ibu bangsa, yang lebih muda dari Mas Boy tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.

Mas Boy masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Boy datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani yang tenang dan damai lebih penting lagi. Karena itulah Mas Boy tidak pernah silau dengan harta.

Mas Boy tumbuh dan besar dalam keluarga yang mementingkan memperlakukan semua manusia dengan baik, tanpa memandang bulu. Mas Boy diajarkan untuk tidak boleh mencurigai mereka yang berbeda. Karena itu Mas Boy berteman baik dengan semua orang, tanpa memandang agama, suku, golongan. Dan Mas Boy menilai kebaikan seseorang dari aksi dan tindakannya, bukan karena label agama atau sukunya. Kalau seseorang baik kepada sesamanya, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, ya dia orang baik, tanpa embel-embel lain.

Saat Mas Boy memasuki dunia politik, dia tahu dia membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Mas Boy tidak punya modal pribadi yang besar. Selain itu, mencurahkan banyak uang di awal berisiko menciptakan mental “balik modal” seperti yang banyak dimiliki banyak politisi sekarang. Tetapi Mas Boy juga tahu bahwa “dukungan dana” dari “sponsor” dan “donatur” berisiko hutang budi yang jadi masalah di kemudian hari. Maka Mas Boy memikirkan beberapa alternatif lain yang lebih baik.

Pertama, Mas Boy berusaha mencari media murah untuk membuat masyarakat mengenalnya. Social Media termasuk media murah meriah, yang semakin mudah diakses dengan semakin murahnya ponsel yang bisa mengakses internet. Facebook dan Twitter membuat Mas Boy lebih mudah diakses, selain itu juga memudahkan dia mengamati “bercakap-cakap” dengan banyak anggota masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu menghabiskan biaya dinas!

Mas Boy tidak punya uang untuk membeli slot waktu di TV. Dan Mas Boy tidak punya stasiun TV untuk keperluan mempromosikan dirinya. Jadi dia memanfaatkan “tv gratis” yang namanya YouTube. Dia akan merekam dirinya sendiri untuk menjelaskan cita-cita dan visinya tentang Indonesia, masalah-masalah negeri yang akan menjadi fokus perhatiannya, dan ide-ide konkrit untuk memajukan bangsa melalui media ini. Dengan ini banyak orang yang bisa mendengar langsung rencana-rencana Mas Boy via komputer di rumah, kantor, ponsel pintar, ataupun Warnet.

Tetapi tentu saja pengguna social media dan internet hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Tetap saja dana besar masih diperlukan untuk menjangkau banyak rakyat melalui media konvensional – apa itu iklan TV, cetak, radio. Belum lagi dana-dana lain yang terkait dengan kampanye, dll. Mas Boy pun pusing karena kebutuhan untuk donor tak terhindarkan lagi.

Akhirnya Mas Boy memilih ide radikal untuk pendanaannya, yaitu TOTAL TRANSPARANSI dan PENDANAAN MASYARAKAT. Dalam pendanaan oleh masyarakat, Mas Boy terinspirasi dengan tim sukses Obama yang menggerakan dukungan dari setiap lapisan masyarakat, sedollarpun pun bermakna. Pendanaan masyarakat ini digabungkan dengan Total Transparansi. Siapapun yang menyumbang akan DIUMUMKAN TERBUKA di website Mas Boy, tanpa memandang bulu apakah itu perusahaan besar atau masyarakat kecil. Dengan cara ini Mas Boy hendak menunjukkan itikad  baik dalam bentuk akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat sepenuhnya. Karena tidak ada arus dana yang “tersembunyi”, tidak ada yang perlu ditakuti akan diobok-obok di kemudian hari.

Selain itu, karena transparan, Mas Boy mau menghindari godaan perusahaan besar yang mau menyumbang tapi “ada maunya” nanti. Karena diberitakan transparan, perusahaan hitam pikir-pikir dua kali untuk menyumbang secara berlebihan karena akan dibaca oleh masyarakat.

Mas Boy sadar dia tidak akan mampu bersaing melawan calon-calon politik lain yang sendirinya adalah pengusaha berkantong tebal, atau memiliki koneksi dengan pengusaha. Tapi Mas Boy sedari awal tidak mau terjebak dalam pikiran “harus dapat untung, minimal balik modal” jika berkuasa. Dan tentunya Mas Boy tidak mau berhutang budi pada sekelompok kecil orang.

Jika harus berhutang budi, Mas Boy memilih berhutang budi pada RAKYAT. Dengan cara ini dia tahu bahwa jika dia berkuasa itu karena rupiah dari rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kerja yang jujur dan berintegritas.

Walaupun tidak berharap banyak pada mulanya, cara Mas Boy yang ‘nyeleneh’ ini mendapatkan perhatian banyak orang. Mirip dengan “Koin Untuk Prita” yang menjadi bola salju bergulir besar, metode Mas Boy yang bergantung pada rupiah dari rakyat mendapat sambutan hangat. Rakyat dari berbagai lapisan bersedia mendukung kandidat yang mau perjalanan politiknya BERSIH DARI AWAL. Sesuatu yang diawali dengan bersih, semoga berujung baik pula, demikian logikanya. Setiap hari, di website Mas Boy bisa dilihat siapa saja yang sudah menyumbang Mas Boy, termasuk jumlahnya.

Dan memang benar, walaupun dana yang diraih Mas Boy masih kalah dibanding politisi-politisi lain yang berbeking pengusaha, tetapi Mas Boy lebih tenang hati nuraninya. Dan juga tidak ada hutang budi pada pihak tertentu selain rakyat kebanyakan.

Dalam mempersiapkan tokoh-tokoh yang kelak akan membantu Mas Boy dalam menjalankan amanahnya jika terpilih, Mas Boy memilih orang-orang berdasarkan kompetensinya. Bukan karena sama agamanya atau sama sukunya. Cara Mas Boy dibesarkan yang diharuskan tidak mendiskriminasi orang memungkinkan Mas Boy mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Dan dengan cara ini, Mas Boy bisa mengenali bakat-bakat terbaik dalam menjalankan negeri, tanpa memandang latar belakangnya. Yang penting memiliki panggilan tulus untuk mengabdi masyarakat, memiliki kompetensi di bidangnya, dan karakter yang baik, maka itu sudah cukup.

Mas Boy juga memutuskan untuk tidak melibatkan keluarganya dalam politik. Mas Boy sudah membuat persetujuan dengan anak2 dan istrinya bahwa selama dia masih memegang jabatan, mereka tidak boleh ikut dalam politik. Walaupun terkesan kejam, Mas Boy hanya ingin memastikan bahwa tidak ada “conflict of interest” antara keluarga dan profesional. Dan “perjanjian” dengan keluarga ini dibuat public, supaya masyarakat menjadi alat kontrol pertama untuk pelaksanaannya.

Seluruh awal perjalanan karir Mas Boy ini bisa disummarykan sebagai spirit AKUNTABILITAS PADA RAKYAT SEJAK AWAL. Menghindari hutang budi pada pengusaha, menghindari hutang finansial dari diri sendiri, semuanya supaya tidak jadi hantu di kemudian hari. Dialog dan program transparan menggunakan sosial media adalah cara murah meriah untuk menjadikan Mas Boy mudah ‘diakses’ orang awam….

Sekian dulu mimpi gw tentang Mas Boy si Pemimpin Impian dan cara-caranya mengawali karir politik….

Mungkin ada pembaca yang mau “menyumbang” mimpi bagaimana Mas Boy bisa menjadi pemimpin impian? :)

 

Betapa Sayangnya “Sayang”

“Cowok itu ganteng sih, baik pula, sayang penampilannya nggak banget”

“Dia pintar dan cantik, sayang ngerokok”

“Sebenernya  dia udah suka sama gw, siap nikah pula, sayang dia kalo ngomong agak gagap”

Pasti udah sering deh denger kalimat di atas, dalam berbagai variasinya, iya kan? Formulanya biasanya:

(Sederet sifat baik yang menjadikan seseorang potensial jadi pacar/suami/istri) +sayang + (satu dua sifat jelek yang membuyarkan segalanya)

Posting ini terinspirasi twitter @louisajhe tadi pagi: “Just found out that handsome-elevator-dude is an active smoker :’(“ Jadi rupanya ada cowok kecengan yang selama ini di-ilerin di lift, jadi buyar karena ketauan merokok (Hi Jessica, kalo elu baca ini, maaf gw quote tanpa ijin :p)

Kayaknya inilah kodrat manusia, yang selalu mencari pasangan sempurna,sayang pencarian ini sering rontok karena ada ‘sayang’ dalam menilai seseorang:D

Tentunya gw bukannya tidak setuju bahwa seseorang harus punya kriteria dalam memilih pasangan, apalagi kalau sudah menjelang serius. Kita semua berhak mendapatkan seseorang berkualitas, dan yang cocok dengan kita. Mungkin masalahnya adalah ketika daftar kriteria kita tidak membedakan mana yang sifatnya “wajib” (must have), dan mana yang bisa dikompromikan (nice to have).

Soalnya kalau nguber Mr.  dan Ms. Perfect yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan, agak susah ya probabilitanya, apalagi kalo kriterianya semakin spesifik (“Gw hanya mau cowok yang bisa bikin 1000 candi dalam semalem”, misalnya) Ya bisa aja sih ketemu in real life, tapi seberapa besar peluangnya?

Gw pernah baca di buku “The Paradox of Choice” oleh Barry Schwartz, bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut “Maximizers”, yang satu lagi “Satisficers”. Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang TERBAIK (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik. Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari dan punya kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan “cukup baik”, ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.

Berdasarkan studi yang dikutip di buku itu, Maximizers mungkin akhirnya MEMANG mendapatkan barang/orang yang TERBAIK. Tetapi proses pencarian yang begitu melelahkan akhirnya membuat kenikmatan akhir menjadi berkurang, dan akhirnya tidak terlalu happy. Satisficers yang tidak terlalu ngoyo mendapatkan yang “less”, tetapi kebahagiaan akhirnya malah lebih tinggi. Kurang lebih formulanya adalah:

Kebahagiaan akhir dari mendapatkan sesuatu = Nilai dari obyek yang diperoleh – Jerih Payah untuk mendapatkannya

Bayangkan skenario mencari LCD TV. Si Maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai “10”. Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai “7/8”. Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer.

Kembali ke pencarian pacar. Mencari Mr./Ms. Perfect juga tentunya lebih melelahkan dan panjang (walaupun mungkin ada beberapa yang hokkie langsung dapet :D ), tetapi sayang juga kalau pengejaran Mr./Ms. Perfect ini malah mengorbankan Mr./Ms. Very Good yang sudah ada di depan mata…. :D

Selamat mencari Mr. dan Ms. Perfect!

Dan bagi yang sudah mendapatkan Mr./Ms. Very Good, selamat berbahagia! :)

Ekstrapolasi Pacaran Ke Pernikahan (Buat Yang Lagi Pacaran)

Tenaaang, gak usah panik, nanti gw jelasin apa artinya ‘ekstrapolasi’ :D

‘Ekstrapolasi’ sih bahasa begonya adalah memperkirakan nilai/kondisi sesuatu variabel, berdasarkan trend/pola variabel tersebut sebelumnya. (Definisi freedictionary.com:  To infer or estimate by extending or projecting known information. Lho, kok definisi Enggresnya lebih gampang dari definisi bego gua?). Contoh: kalo beberapa tahun berturut2 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi x%, maka seseorang bisa memprediksi pertumbuhan 2012 dengan mengekstrapolasi trend angka sebelumnya.

Asumsi dari ekstrapolasi adalah: perilaku suatu variable cenderung tidak berubah drastis. Karenanya ekstrapolasi digunakan untuk mengestimasi hal-hal yang sifatnya berubah secara steady/predictable. Contoh: pertumbuhan penduduk. Karena kemungkinannya kecil Indonesia dibom aliens yang tersinggung dengan jambul Syahrini, maka kita bisa pede mengekstrapolasi jumlah penduduk di tahun 2012, 2020, sampe 2050 – berdasarkan pertumbuhan penduduk yang kemarin (plus asumsi2).

Beberapa hari yang lalu gw mengetwit: “Kesalahan fatal adalah mengekstrapolasi  kebahagiaan saat pacaran ke pernikahan”. Berhubung media Twitter sangat terbatas, mungkin gw bisa elaborate sedikit maksud gw di blog ini.

Maksud twit gw adalah: banyak orang mengira kalau pengalaman pacaran bisa diekstrapolasi ke pernikahan. Artinya, kalau cocok dan happy di saat pacaran, maka semua pasti bisa ‘diteruskan’/diekstrapolasi ke pernikahan.

Ekstrapolasi dalam konteks ini bermasalah karena sebenarnya pacaran dan pernikahan bukan variable yang sama. Dua-duanya sangat berbeda, dari hal-hal sepele sampai hal-hal besar.

Pacaran di konteks Indonesia, misalnya, gw asumsikan belum tinggal bareng. Dari tinggal terpisah menjadi tinggal bareng, biarpun kesannya sepele, justru perubahan drastis. Kalau saat pacaran sang kekasih terasa sempurna, hal itu bisa berubah saat melihat kelakuannya tinggal bareng. Dari masalah ngorok, jorok suka ngupil dan meper di mana2, egois gak mau bantu pekerjaan rumah, malas, dll, dll. Banyak kok yang berantem karena ini.

Pacaran adalah antar individu. Menikah adalah antar keluarga. Banyak yang lupa soal ini. Kehadiran ibu mertua yang rewel, saudara ipar yang menyebalkan, peliharaan pacar yang gak pernah suka melihat kita, dll, dll. Variabel tambahan ‘keluarga’ ini membuat ekstrapolasi pacaran ke pernikahan bisa meleset total.

Seks, yang sering ditunggu2 pasangan pacaran yang menolak seks pra-nikah, bisa menjadi sumber bahagia, tetapi bisa juga sumber petaka. Style hubungan seks bisa jadi tidak compatible (elunya konservatif, dianya eksperimental pake borgol, cambuk, panci, dan dongkrak, misalnya…) Ataunya elunya kuat sejam, dia hanya kuat 5 menit.

Uang. Waktu pacaran sih simpel, masing2 punya duit sendiri, elu tugasnya ngebayarin atau terima dibayarin, beres. Saat menikah uang bisa menjadi sumber berantem (dan salah satu penyebab perceraian tersering). Gimana cara ngaturnya, terus biasanya belanja game seenak udel supir metromini, tiba2 sekarang diawasin istri, dll.

Anak tentunya adalah sumber kebahagiaan, no doubt. Tetapi sebagai variabel baru yang sebelumnya, diasumsikan, tidak ada saat pacaran, bisa membuat ekstrapolasi pacaran kembali meleset. Masalah gaya mendidik dan membesarkan, perbedaan prinsip dan kepercayaan (elu maunya anak cinta damai dan pemaaf kepada teman-temannya, sementara prinsip pasangan adalah gampar dulu temen yang mencurigakan – preemptive strike gitu), perbedaan prinsip ngasih uang jajan, dll.

Dan masih banyak lagi variabel-variabel yang tidak ada di dalam fenomena pacaran, yang kemudian muncul di pernikahan. Inilah kenapa gw bilang kita tidak bisa otomatis mengekstrapolasikan enaknya pacaran menjadi jaminan enaknya pernikahan.

Apakah maksudnya gw nulis ini supaya kita jadi pesimis? Nggak sama sekali. Justru maksudnya supaya kita aware akan hal ini dan gak naif asal mengekstrapolasi pacaran ke pernikahan. Kalau saat ini kita sedang asik-asiknya pacaran, semua terasa indah tai kucing rasa cokelat, dan mulai memikirkan serius ke jenjang pernikahan, kita juga harus waspada. Karena tai kucing itu bisa berubah menjadi rasa tai kucing beneran.

Kalau kita waspada, kita bisa: cari tahu lebih banyak dulu tentang pasangan/keluarga kita, membicarakan dulu hal-hal penting sebelum menikah, atau minimal mempersiapkan mental untuk bisa mengerti dan mentoleransi.

Ada pepatah: Fortune favors the prepared (keberuntungan berpihak kepada mereka yang siap). Buat gw: Love favors the prepared. Cinta berpihak kepada mereka yang siap.

Selamat pacaran serius! :D

Operasi Plastik, Emang Kenapa?

Korea, negeri yang sudah sangat maju industri operasi plastiknya. Konon mayoritas artis K-Pop yang kece2 mampus itu karena sudah operasi mata, hidung, dll.

Di Indonesia, operasi plastik rasanya masih ada stigma negatif. Entah itu operasi mata, hidung, payudara, gw suka denger cibiran “Ah, itu kan operasi?”

Sebenarnya, emang kenapa coba kalo cantik/ganteng karena operasi?

Umat manusia selama ribuan tahun di berbagai kebudayaan terbukti selalu berusaha mempercantik diri. Kosmetik home-made, sampai kosmetik yang diproduksi komersial, sudah ada selama ratusan tahun, menunjukkan keinginan mempercantik diri itu sangat manusiawi (dan tidak disebabkan oleh advertising modern abad 20 saja).

“Mengubah fisik” dilakukan oleh kita semua. Kita semua pada dasarnya tidak menerima fisik kita “apa adanya”. Dari menyisir rambut, potong rambut, memakai gel rambut, memakai hand & body lotion, bedak, lipstik, kuteks, mascara, eye shadow, Lasik, dll, semua ini tidak ada bedanya secara esensi dari operasi plastik. Kita tidak puas dengan diri kita apa adanya, dan melakukan hal-hal untuk mengenhancenya.

Jadi kalo esensinya sama, kenapa ya operasi plastik dianggap lebih negatif?

Ada yang bilang, operasi plastik kan “permanen” sifatnya, sementara kosmetik hanya temporary. Tapi kalo kosmetik atau wonderbra-nya dipake setiap hari, ya nggak ada bedanya sih menurut gw. Malahan operasi plastik cara yang jauh lebih efisien untuk mempercantik diri.

Misalnya, topik favorit pria: memperbesar payudara. Gw sejujurnya gak perduli payudara asli atau palsu. Pertama, gw gak bakal tahu juga toket asli vs. palsu. Kedua, PERDULI AMAT asalnya dari mana, toket ya toket. Yang penting ukurannya bukan seperti tumor ganas dan berisiko membuat gw gegar otak, ya payudara implan sih bagus-bagus aja buat gw.

Jadi operasi plastik sih sah-sah aja untuk mempercantik diri, kalo memang ada uangnya, dikerjakan dengan professional, dan tidak membahayakan kesehatan.

Kalaupun ada “isu”, mungkin dari sudut pandang evolutionary psychology. Ketertarikan fisik, konon didrive dari keinginan mencari pasangan dengan gen berkualitas. Selama ratusan ribu tahun spesies kita tidak mengenal titel sarjana, jabatan pekerjaan, dan mobil. Jadi kesehatan fisik mejadi kriteria utama untuk kawin. Kecantikan dan keindahan tubuh adalah indikator visual dari gen yang bagus. Di jaman modern, tentunya fisik bukan satu2nya faktor lagi, tetapi “software” otak kita susah berubah secepat perkembangan jaman. Itulah penjelasan evolutionary biology mengapa kita tertarik pada fisik cantik/gagah/sexy.

Operasi plastik, dan juga kosmetik tebal, sebenarnya “mengelabui” software otak kita. Walaupun kita tidak punya gen mancung, atau gen payudara besar, dengan operasi payudara/hidung kita membuat efek seolah-olah kita punya gen tersebut. Walau mata kita sipit, dengan operasi mata dan bulu mata palsu tahan bom nuklir membuat kita seolah-olah memiliki gen mata bagus. Dll.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal di atas. Tapi mungkin bisa menjadi potensi kaget saat terjadi perkawinan yang menghasilkan keturunan. Gw pernah baca tentang situasi hipotetis sepasang pria dan wanita yang ganteng dan cantik luar-biasa, tetapi hasil operasi plastik, yang memutuskan untuk menikah. Saat anak mereka lahir, maka kagetlah mereka, “ANAK SIAPA INI??!!” Walaupun ini cerita setengah bercanda, tapi sangat masuk akal. Operasi plastik tidak mengubah gen, yang kemudian diturunkan ke anak. 😀