Thankful for the {small + ordinary} moments where life is lived

Nos jours sont bien rempli avec les taches quotidiennes. J’ai commencé à travailler à plein temps et ça nous prend du temps à s’habituer, presque s’habituer, au nouveau rythme assez chaotique de cette nouvelle organisation.

Je ne vois pas les jours passé et je n’ai pas le temps de faire grand chose, et encore moins de passer du temps avec ma famille. Le fait de prendre les photos et écrire sur le blog me manque beaucoup. Mais pour le moment chaque minute libre est passé avec ma famille, et j’essaie.

Voici quelques photos de notre weekend à Dieng Wonosobo avec ma famille, juste quelques images que je voulais partager. À très bientôt lecteur !

_DSC0159-01

Continue reading

City Lights Overlooking and Star Gazing at Pondok Kopi Umbul Sido Mukti

Hello folks!

I guess time really does fly when you are having a blast … I’d like to take a minute to share some memories from my weekend getaway to Pondok Kopi Umbul Sido Mukti. It has been my dream to go to a place where I’ll be looking metro’s busy city in a different way — city lights overlooking for short — and to lie down in a grass land, gaze the open skies and wait for shooting stars.

The best nights are usually unplanned, random and spontaneous. Agreeee!!

So to take away stress from working in the busy city, I packed my stuffs to my bag, then I met up with Tim Manggis (Iting, Opank, David, Rizky, and Iin). We left our homes about 10.00 pm in the night, and then we went to coffeshop until 3.00 am. Anyway, at around 3:30 am, after being awake for several hours we reached the destination. Here we go people!

It was absolutely pitch dark, so we need to rely on torchlights. Our next worry was waiting till sunrise in the blazing cold without freezing to death. But somehow we managed and it was worth it. Fyuuuh

Check out the pretty city lights!

IMG_20150907_151812 Continue reading

GET BACK INTO BLOGGING: MY FIRST BLOG POST AT 2015

Finally getting a chance to update my blog and it feels SOOOOOO good. It’s been a while, sorry guys but I’ve been (and still) completely overloaded with many other stuff.

Oh ..I just noticed my blog turned over to 170,000 views!! THANK YOU!!

This is something I’ve definitely been struggling with since I joined Instagram. I’ve noticed a definite decline in my blog content. It’s so easy to just take quick snaps and upload them to Instagram. Imstagram has forced me to rethink my content. Do share things immediately when I can, but make more effort on a deeper content when it’s about my blog. Personally, I use Instagram on certain, reoccurring series as a way  to get a peek into my life.

Yeah, dengan semakin tersitanya waktu karena urusan kerja, alhasil untuk menulis sebuah konten yang dalam dan panjang rasanya susaaaaah sekali. Postingan terakhir bulan Desember tahun lalu. Jadi ada cerita apa saja selama saya meghilang tiga bulan ini? BANYAK. Sampai bingung harus memulai yang mana dulu ya.

I thought I’d give a quick round up of some my favourite things so far this year!

Continue reading

Solo Off Road with MTB

LATE POST!

Hello everyone! I’m so happy to be getting back! Fyuuuh

I’m so excited deh nulis postingan ini karena mengingatkan kembali keseruan di weekend kemarin yang saya lalui dengan sepedaan. Bukan sembarang sepeda tapi mtb alias mountain bicycle di rute yang bisa dibilang cukup menantang bagi amatiran seperti saya.

This is my very first experience!

Bisa dibilang ini adalah acara dadakan sebenarnya. Jumat malam baru fix, Sabtu paginya tanggal 14 Juni langsung berangkat dari Semarang ke Solo bersama2 orang yaitu si Iting a.k.a my boyfriend dan si Bagus. Tumben ya cuma seuprit doang yang ikut, biasanya pasti rame-rame. Ya iyalah secara mobilnya udah penuh duluan buat nampung sepeda.

Trus kenapa memilih Solo? Hehe .. alasannya simpel kok, karena kebetulan di sana ada si Dhunu, anak inline yang hobi sepedaan juga. 😀

Perjalanan Semarang-Solo terhitung lancar walaupun saat itu weekend. Begitu sampai di Solo kami langsung menuju Jackstar untuk ketemuan dengan Dhunu sekalian isi perut berhubung matahari sudah semakin meninggi. Selesai makan kami menuju ke bengkel sepeda milik teman Dhunu karena si Bagus berencana beli crank baru. Yah … walaupun ujung-ujungnya gag jadi beli karena harganya beda tipis sama yang baru.

Untungnya si empunya bengkel lumayan jenaka, jadi sedikit terhibur deh selama di situ. Lumayan lah sedikit dapet ilmu juga tentang seluk beluk sepeda. Saya baru tahu lho kalau sepeda yang bagus itu ternyata posisi remnya kebalikan dari motor. Selain itu rupanya sepeda juga ada berbagai macam jenisnya mulai dari down hill, dirt jump, off road, cross country, road race, hard tail, bmx, dst. Kalau yang saya pakai nanti itu mtb,teman saya bilang syh all mountain gitu. Tapi saya belum terlalu ngerti juga syh. Hihihi

Semakin banyak ngobrol tentang dunia sepeda jadi semakin paham bahwa ini adalah hobi yang mahal. Lebih mahal dari motor atau mobil malahan. Seorang rekan dari teman yang sudah menjajal berbagai macam hobi pun membenarkannya. Mulai dari harga sepeda yang bisa buat beli rumah, trus misal beli spare part yang custom dengan harga puluhan juta, orang-orang dengan obsesi yang bagi saya agak tidak masuk akal.

Di luar sana ternyata ada orang-orang yang rela mengeluarkan uang ratusan juta untuk memenuhi hobi sepedanya. Cuma bisa geleng-geleng kepala pas diceritain kalau ada seorang rekan yang punya beberapa sepeda dengan harga masing-masingnya setara sebuah rumah, tapi yang punya sepeda malah masih ngekos alias belum punya rumah sendiri. Ada pula yang ngeluarin duit 80 jutaan Cuma buat beli tempat duduk/sadel doang. Dan masih banyak lagi cerita-cerita fantastis kaum borjuis ini yang cuma bikin saya bengong. Memang benar kalau ada pepatah bilang bahwa tak ada hobi yang murah di dunia ini.

Aduh kok malah jadi ngomongin orang gini ya … hehe … maaf maaf, back to the topic ya!

Singkat cerita setelah dari bengkel kami pun menuju rumah Dhunu untuk beristirahat sejenak sebelum bersepeda. Tepat pukul 15.00 WIB kami berempat bersiap-siap menuju start point untuk sepedaan.
Start pointnya di sebuah bengkel sepeda bernama Brewok Mountain Bicycle di daerah Mesungan, Gondangrejo, Karanganyar (utara perumnas Mojosongo). Sambil menunggu leader yang akan memandu kami datang, kami gunakan waktu untuk berganti kostum dan merakit sepeda.

10277427_10203288331185858_5198156452244437855_n Continue reading

What Is The Connection Between Water And Human?

It’s me again.

Bonjour à tous! Comment ça va?

So, I’m super inspired to blog again!! This kind of feeling normally won’t last long. The weather recently is so bad. Almost every day is rain and the wind is so cold enough to make me sick. Even in the several cities in Indonesia was attacked by flood. Pray for the victims.

Source: Pinterest

Source: Pinterest

If you have read my previous post, I was talking about what I like the most during rainy season. Today, I’m going to talk about the water. I hope you guys not getting bored. I have so many things to write nowadays. ^^ Continue reading

Saturdate at Crowne Plaza Hotel Semarang

Helloooooo!

Ngapain aja weekend kali ini guys? Saya syh masih sama seperti biasanya yaitu latihan inline. Cuma ada yang sedikit berbeda hari Sabtu kemarin saya berenang sejenak di Crowne Plaza Hotel Semarang sebelum latihan. Berhubung jadwal latihan sore di skip pindah ke Java mall gara-gara lapangan Simpang Lima dipakai buat acara Fornas (Festival Olah Raga Rekreasi Nasional) gitu jadi bisa curi-curi waktu deh ya. Yippiiii! Continue reading

Wedang Tahu khas Semarang

Satu lagi nyh minuman tradisional khas Semarang yang wajib dicoba, wedang tahu!

Wedang tahu ya bukan wedang ronde lho. Wedang yang dijajakan memakai pikulan ini sekilas hampir mirip dengan wedang ronde. Kuahnya yang hangat dengan rasa pedas jahe dan rempah-rempah lainnya berpadu dengan manisnya campuran gula pasir dan gula jawa. Namun yang membedakan adalah isiannya, kalo wedang tahu isiannya dari kembang tahu. Continue reading

Jamu Jun, Minuman Tradisional Khas Semarang

Pernah mendengar Jamu Jun gag?

Hayooo bagi sebagian warga Semarang bahkan mungkin ada yang belum pernah mencobanya sama sekali. Bagaimana tidak, keberadaannya sekarang bagai ditelan zaman. Untunglah saya masih sempat menikmati minuman tradisional ini. Tepatnya tahun 2008 silam awal perkenalan saya dengan Jamu Jun.

Saat itu saya diundang dosen saya main ke rumahnya di daerah Gang Baru (salah satu daerah pecinan di Semarang) khusus untuk menikmati Jamu Jun. Rupanya dosen saya punya tukang jamu langganan yang bisa dipanggil. Awalnya saya tak terlalu antusias dengan undangan beliau. ‘Yaelah disuruh dateng ke rumahnya cuma buat minum jamu?’ begitu pemikiran saya dulu. Namun ternyata pada akhirnya saya malah jadi semangat banget. Dari sebuah jamu ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Terima kasih Madame Conny yang sudah memperkenalkan saya dengan Jamu Jun. 😉 Continue reading