Morning Zone at Sundak Beach #RockOverIndonesia

Setelah semalaman sampai subuh berada di keramaian kota Jogja, paginya saya dan teman-teman memutuskan untuk kabur ke Gunung Kidul, tujuan kami tentu saja pantai!. Yaahh..kami butuh udara segar dan kedamaian setelah malam sebelumnya nyetreet sampai pukul 3 pagi. Terbayang di otak kami menikmati sunrise di bibir pantai sambil tiduran di hamparan pasir nan luas. Ahh…nikmatnya.

Pukul 4 pagi kami berangkat dari pusat kota menuju Wonosari, Gunung Kidul. Perjalanan kurang lebih kami tempuh selama 2 jam. Walaupun sedikit mengantuk karena belum tidur dari tadi malam, tapi kami tetap semangat membayangkan indah dan sepinya pantai saat pagi-pagi.

Pantai Sundak sendiri berada di wilayah kabupaten Gunungkidul, tepatnya di desa sidoharjo kecamatan Tepus. Berada di jajaran pantai selatan berderet dengan pantai Kukup, Krakal, Drini, Sepanjang dan Pantai Baron. Lokasinya memang sedikit terpencil, namun akses jalannya sudah cukup baik. Namun perlu berhati-hati karena rute jalan yang sempit dan berliku.

Kurang lebih pukul 06.00 kami sampai di pantai Sundak. Wah senang sekali karena masih sepi, hanya ada 3 rombongan termasuk kami. Itupun tidak dalam jumlah banyak. Sebenarnya sedikit kecewa juga karena sebetulnya kami mengincar sunrise, tapi tampaknya kami belum beruntung berhubung berangkat kesiangan dan pakai adegan kesasar pula!. bbeuuuh

Tanpa berlama-lama kami pun segera meluncur!

Pukul 07.00 WIB di Panta Sundak.

Pukul 07.00 WIB di Pantai Sundak

Memang keputusan yang tepat datang ke pantai pagi-pagi. Udara masih segar, suasana masih sepi….ahh…damai sekali rasanya.

Bersantai menikmati mentari yang mulai hangat.

Bersantai menikmati mentari yang mulai hangat.

Bawaannya pengen foto levitasi tiap ke pantai!

Bawaannya pengen foto levitasi tiap ke pantai!

Bersyukur sekali cuaca hari ini cerah, karena beberapa hari terakhir cuaca Jogja sedikit tidak bersahabat. Untuk yang mencari ketenangan, Pantai Sundak bisa diandalkan. Biasanya malah ada yang membangun tenda dan bermalam di sini lhoh!. Terlebih lagi biaya masuknya juga murah, jadi tunggu apalagi ayo tambahkan Pantai Sundak dalam list destinasi travelling kalian.hehe…promosi banget yah. :p

Haha...selalu ketawa kalau melihat foto ini. funny!

Haha…selalu ketawa kalau melihat foto ini. funny!

Pantai Sundak ini ombaknya tidak terlalu besar karena batuan karangnya menjorok sampai ke bibir pantai. Namun jangan kecewa dulu, karena begitu kita menjelajah lebih dekat ke karang maka akan kita jumpai berbagai mahluk laut yang ‘aneh’ dan lucu. Lumayan menambah wawasan tentang biota laut. Namun tetap berhati-hati ya karena batuan yang licin bisa saja terpeleset.

Berburu biota laut. :)

Berburu biota laut. 🙂

Hamparan bibir pantai bergincu karang-karang mungil tempat bermain biota laut nan menggemaskan. Karang yang berdiri kokoh seolah penjaga Pantai Sundak nan kokoh dan pemberani. Perbukitan kapur di latar belakang pantai yang menjulang menambah keelokan pertemuan laut dan daratan pesisir selatan pulau Jawa.

Kumis ala go green. :p

Kumis ala go green. :p

 

Freedom :D

Freedom 😀

 

Bermain-main seperti ini sangat menyenangkan sekali.

Bermain-main seperti ini sangat menyenangkan sekali.

 

Ngaso dulu setelah lelah jumpalitan ke sana ke mari. hehe :D

Ngaso dulu setelah lelah jumpalitan ke sana ke mari. hehe 😀

Pour moi, la plage de Sundak est la plus belle plage à Yogyakarta et ses environs. À l’est de cette plage, la grotte de 12 mètres de hauteur abrite un puit naturel de l’eau douce.

Oiya…tak jauh dari pantai ada gua yang terdapat sumber mata air tawar yang oleh penduduk lokal digunakan untuk keperluan sehari-hari. Wah…benar-benar tak disangka ya!

Sundak, salah satu Pesona Gunung Kidul yang masih terkubur, terkabur akan berita yang simpang siur.
Sundak sebagai sebuah tonggak, bahwa Gunung Kidul bukanlah kekerontangan namun sebuah keindahan nan eksotis.

@NcisLuscious – Semua tempat adalah tujuan wisata yang tidak layak untuk dibandingkan karena memiliki karakternya masing-masing.

Kisah Nyata Dari mahasiswa Indonesia Di Australia

Kisah ini bukanlah pengalaman pribadi. Saya membacanya lewat update status di facebook oleg salah satu dosen di kampus saya. Memang bukan sebuah hal yang benar-benar baru untuk dibahas. Namun tak ada salahnya kisah berikut ini bisa menjadi motivasi dan pengingat bagi kita semua, khususnya bangsa Indonesia.

Sparkling_Indonesia_by_Janitra

***
Suatu pagi, kami menjemput seorang klien di bandara. Orang itu sudah tua, kira-kira berumur 60 tahun. Bapak ini adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya melayu dan inggris, beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda.

Beliau berkata, “U’re country is so rich!”

Ah biasa banget denger kata-kata itu, ujarku dalam hati. Tapi tunggu dulu. “Indonesia doesn’t need the world,but the world needs Indonesia,” Lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia,U don’t need the world.” “Mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja semua hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia. Lima ratus ribu orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli orang-orang Indonesia, tidak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah Rumah Sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat. Terus, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar-benar panik.

Sangat terasa, We Are Nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras. Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana, lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg. Saya liat ini sebagai PELUANG. Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia!

Ya,karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani-petani sendiri,belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tidak perlu import kalau bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENGEMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Share Yah Biar Dibaca Oleh Seluruh Bangsa Indonesia.

EKSOTISME PURA GUNUNG KAWI #RockOverIndonesia

Hai hai hai ! kali ini saya masih akan membahas perjalanan saya di sekitar Ubud. Berada di Ubud benar-benar menguntungkan karena banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di sekitarnya. Punya waktu banyak atau sedikit semua bisa diatur. Seperti saya yang kali ini tidak punya banyak waktu, sekedar memanfaatkan waktu senggang akhirnya jatuhlah pilihan saya mengunjungi Pura Gunung Kawi. Pura Gunung Kawi terletak di Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. Jalur menuju ke sana merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.

Untuk menuju ke Pura Gunung Kawi kita terlebih dahulu harus menuruni ratusan anak tangga yang diapit oleh area persawahan nan indah. Begitu sampai di pintu gerbang kita akan disambut dengan sebuah gerbang yang terbuat dari batu. Konon katanya untuk membuat gerbang ini orang mengeruk sebuah batu besar sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Sebelum masuk kita terlebih dahulu harus memerciki tubuh kita dengan air suci yang telah disediakan.

Pintu gerbang menuju area Pura Gunung Kawi.

Pintu gerbang menuju area Pura Gunung Kawi.

Kata ”kawi” berarti mengarang kalau kata-kata bijak yang dirangkai menjadi syair yang indah dan penuh makna. Kalau lereng bukit yang dikawi maka kata ”kawi” itu berarti mengukir. Konon yang mengukir lereng bukit Sungai Pakerisan itu menjadi candi adalah Kebo Iwa, tokoh ahli bangunan atau arsitek pada zaman pemerintahan keluarga Raja Udayana. Kebo Iwa membuat ukiran candi sampai menjadi Pura Gunung Kawi dengan menggunakan kukunya. Demikian dinyatakan dalam buku hasil sejarah penelitian pura oleh IHD (sekarang Unhi).

Pura Gunung Kawi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok lima candi dipahatkan di tebing timur Sungai Pakerisan berjejer dari utara ke selatan. Kelima candi ini menghadap ke barat. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ”haji lumah ing jalu”. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah istana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya. Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ”rwa anakira”. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu.

gkawi 6

Sementara di tebing barat Sungai Pakerisan terdapat empat kelompok candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan itu berjejer dari utara keselatan menghadap ke timur. Menurut Dr. R. Goris, keempat candi ini adalah sebagai padharman empat permaisuri raja. Di samping itu ada satu pahatan candi lagi terletak di tebing barat daya Sungai Pakerisan.

gkawi5

Di candi itu ada tulisan dengan bunyi ”rakryan”. Kemungkinan candi ini sebagai padharman dari seorang patih kepercayaan raja. Karena itulah diletakkan di sebelah barat daya. Di sebelah selatan candi kelompok lima terdapat wihara berjejer sebagai sarana bertapa brata. Raja Udayana dengan permaisurinya berbeda sistem keagamaannya. Raja Udayana lebih menekankan pada ke-Budha-an, sedangkan Gunapriya Dharma Patni lebih menekankan pada sistem kerohanian Siwa. Hal inilah yang menyebabkan agama Hindu di Bali disebut Agama Siwa Budha.

Keberadaan Pura Candi Gunung Kawi ini yang menempatkan dua sistem keagamaan Hindu yaitu sistem Siwa dan sistem Budha sebagai suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan demi kemajuan beragama Hindu ke depan. Di samping itu Raja Udayana sangat menerima baik adanya unsur luar yang positif untuk menguatkan budaya Bali saat itu. Seandainya Raja Udayana saat itu menolak apa yang datang dari luar Bali tentunya umat Hindu di Bali tidak mengenal kesusastraan Hindu seperti sekarang ini.

Misalnya ada berbagai jenis karya sastra Parwa dan Kekawin dalam bahasa Jawa Kuno dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata. Karya sastra Jawa Kuno ini amat besar jasanya dalam memperkaya kebudayaan Hindu di Bali sehingga Bali memiliki kebudayaan yang sangat tinggi sampai sekarang. Semua unsur itu dipadukan dengan budaya Bali yang telah ada sebelumnya. Demikianlah bijaknya Raja Udayana pada zaman dahulu.

Disebelah tenggara dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para Biksu/pendeta Budha). Peninggalan Candi dan Wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 masehi dan juga wujud toleransi hidup bergama pada waktu itu yang patut menjadi contoh dan tauladan bagi kita di masa ini, belajar dari kearifan masa lalu.

gkawi2

gkawi9

gkawi 1

gkawi 3

Asrinya area komplek Pura Gunung Kawi

Asrinya area komplek Pura Gunung Kawi

Sungai yang masih terjaga kelestariannya di area komplek Pura Gunung Kawi.

Sungai yang masih terjaga kelestariannya di area komplek Pura Gunung Kawi.

Benar-benar sebuah tempat yang kaya akan cerita sejarah dan  budaya. Ditambah keasrian Pura ini yang berada di dekat sungai dan sawah menjadi nilai plus mengapa saya sebut tempat ini eksotis.

Tegallalang, One of The Most Spectacular Rice Field Terraces. #RockOverIndonesia

Hamparan sawah di Tegallalang, Bali.

Hamparan sawah di Tegallalang, Bali.

 

Bicara Bali tak lengkap kalau tak membahas subaknya. Begitu terkenalnya subak di dunia hingga UNESCO menasbihkan bahwa ini adalah salah satu hal yang perlu dilestarikan. Pemandangan terasering persawahan yang berundak-undak dengan indahnya menjadi daya tarik tersendiri. Jika ingin melihat subak dengan pemandangan yang indah datang saja ke Jatiluwih atau ke Tegallalang. Dua-duanya memiliki pemandangan persawahan yang begitu indah.

Perjalanan saya kali ini mengunjungi Tegallalang. One of the most spectacular rice field terraces is Tegallalang area, just about 15 minutes drive outside of Ubud. Surrounding gorge full of rice fields has over the years attracted many photographers who captured its images on film and photos. Overtime Tegallalang rice fields became an attraction in itself.

Even though a lot of rice fields surrounding Ubud have been converted, terrace rice fields still remain the most popular feature of Bali landscapes. Most of them have been created around 9th century and engineered by the Balinese themselves using water coming from the mountains. The result are step, garden like terraces designed on hillsides and mountain edges with irrigation channels that keep them wet all year round.

Sayang sekali di area Tegallalang ini tidak ada area parker khusus, sehingga kendaraan harus diparkirkan di pinggir jalan.Tak jarang hal ini membuat jalanan macet karena lebar jalan yang memang kecil karena jalan desa. Jika lelah, para pengunjung bisa beristirahat di kafe-kafe yang dibangun menghadap pemandangan area persawahan. Ada pula beberapa kios souvenir ang menjajakan dagangannya. Satu hal lagi yang unik dari tempat ini, banyak berkeliaran anak-anak yang menjajakan kartu pos, usianya sekitar anak SD. Hatii-hati ya karena kadang mereka sedikit agresif.

Jika ada waktu senggang cobalah mampir ke tempat ini, tempat yang tepat untuk sejenak melarikan diri dari keramaian Ubud.

 

SOTO: The National Soup

soto

Tasting the Indonesian food is so much fun. Indonesia is not only rich for its tradition, tribes, and cultures, but it also rich in culinary. This time we will talk about cuisine that famous from East Java but well known all over Indonesia, Soto.

From the taste, the color, and the ingredient, soto is believed not originally an Indonesian food. The historians suggest it was influenced by foreign culinary tradition. It is a mixture of Chinese, Indian, and native Indonesian cuisine. But this delicious food has known for years and developed in so many varians.

Basically soto is mainly composed of broth, meat, and vegetables. But there are some addition dish such as stewed quail eggs or chicken eegs, fried chicken giblets, shredded fried chicken, crisp fried potato, fried tempeh, hot chili sauce, topped with fried shallot. You may complete the flavor wit a slice of lemon squeeze and sweet soy sauce.

Soto usually named based on their chief ingredients or the origin town which developed their regional version of soto and here is some famous soto which well known all over Indonesia:

Soto Ayam is chicken soto in yellow broth, usually served with lontong or rice and completed wit rice vermicelli. The easiest and most common soto served in stall, restaurant.

Soto Babat is a cow’s or goat’s tripe, cooked in a yellow spicy coconut milk broth, served with rice, vermicelli, potato, and vegetables.

Soto Kikil known as Soto Betawi, is made of beef tendon or cartilage cooked in whitish cow milk or coconut milk broth. Easily found in Jakarta and usually served with rice, vermicelli, potato, vegetables, and krupuk (crackers).

Coto Makassar is beef and offal soto boiled in water used to wash rice, served with fried peanut. The appearance may not so nice, but some people love it so much.

Soto Babi is pork soto, cubes sliced pork cooked in a very tasty pork broth, simply serve with rice and celery and fried shallot for great flavor. It is easily find in Bali.

Soto is omnipresent in Indonesia and considered as comfort food. It is available in many open-air eateries, small stall in street corners, fine dining restaurants, and luxurious stars hotel. So do not miss the chance to taste it while your visit in Indonesia. Selamat makan!

Nikmatnya Trekking di Danau Tamblingan & Buyan, Bali. #RockOverindonesia

17 Agustus 2012. Tidak sadar rupanya perjalanan saya kali ini tepat dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ah..Indonesia itu nggak akan pernah habis dijelajahi. Seperti perjalanan kali ini, saya akan trekking di sekitar Danau Tamblingan dan Buyan!! Excited sekali karena danau ini masih “perawan”. Lokasi 0byek Danau Buyan dan Tamblingan terletak di kawasan yang sangat strategis yakni diapit oleh tiga obyek wisata terkenal yaitu Bedugul dengan Pura Ulun Danunya, Air Terjun Gitgit, dan Lovina Beach. Sebagai latar belakang adalah gunung Lesong dengan ketinggian 1860 m memagari kejernihan air danau sekaligus menciptakan keheningan yang sangat alami.

Danau Tamblingan

lake buyan

Datang saja ke Kabupaten/Kota Buleleng Bali dan siap-siap terpesona oleh indahnya kedua danau yang masih alami ini. Danau Buyan dan Danau Tamblingan seolah danau kembar yang memiliki daya tarik yang sangat mempesona. Keaslian alam di kedua danau ini masih sangat dirasakan, misalnya dengan tidak adanya penggunaan perahu bermotor di kedua danau ini. Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil yang disebut “pedahu” untuk memancing.

Pedahu

Rute trekking saya berdurasi 3 jam dengan pembagian 2 jam jalan dan 1 jam naik pedahu di Danau Tamblingan. Trek yang dilalui cukup mudah meski ada beberapa bagian yang harus berhati-hati karena tanjakan yang curam dan licin. Saya sangat kagum dengan begitu besarnya komitmen masyarakat Bali menjaga alam mereka. Hutan yang masih alami ini menjadi buktinya. Pohon beringin yang begitu besar dengan usianya yang ratusan tahun, serta tanaman-tanaman tropis yang dibiarkan tumbuh bebas di hutan. Oiya, biasanya masyarakat Bali memakaikan kain hitam putih pada pohon beringin, namun jika posisinya ada di hutan seperti yang sekarang saya temui, maka tidak perlu diberi kain hitam putih seperti biasanya. Pohon beringin sendiri bagi masyarakat Bali adalah “Pohon Abadi” karena walaupun  kita menebang pohon tersebut, maka akan terus tumbuh lagi cabang yang baru, dan terus menerus demikian.

Wah saya benar-benar kegirangan berada di hutan ini karena baru kali ini saya menemukan pohon-pohon yang begitu besar dan tingi menjulang. Yah walaupun saat saya ke Kalimantan juga menemukan pohon-pohon besar, tapi tetap saja saya dibuat tak bisa berhenti takjub.

Satu lagi yang membuat saya heran, begitu sampai di pos peristirahatan yang pertama, di situ ada sebuah pure. Iya PURE DI TENGAH-TENGAH HUTAN BELANTARA! Whaaaat?! Gila ni siapa coba yang mau repot-repot jalan jauuuuuuh dan melelahkan untuk bisa beribadah di sini? Dan nyatanya memang ada. Ckckck salut banget deh sama orang Bali! Orang Bali memang TOP dalam menentukan tempat ibadah, mereka selalu memilih tempat-tempat yang eksotis right? Dan keterkejutan saya belum selesai karena di perjalanan saya berikutnya ada 2 pure lagi yang lokasinya WOW!

Pure di tengah hutan

Setelah selesai beristirahat, saya melanjutkan perjalanan lagi. Menuruni sekian ratus anak tangga dari pure tadi saya menuju daerah yang lebih landai yang rupanya mengarah ke arah danau. Benar-benar suasana yang tentram dan tenang. Dan saya menemukan pure lagi saudara-saudara. Yup! Memang tak salah kalo Bali dijuluki pulau seribu pure.

Pura Gubug di danau Tamblingan

Puas melihat dan menikmati pemandangan, saya melanjutkan perjalanan kembali menuju pos terakhir. Di pos terakhir ini saya juga menemukan pure lagi, Cuma kondisinya bagi saya pribadi agak menyeramkan gitu karena ada lukisan wanita yang saya yakin dia adalah salah satu manifestasi dari dewa yang saya tak tahu apa. Hehe..Di sisi lain kondisinya memang agak kurang terawat, apalagi posisinya di tengah hutan. Saya jadi berandai-andai mungkin kalau malam hari sosok itu hidup dan berkeliling ke sana ke mari. Ahh…sepertinya saya terlalu banyak menonton film horor.

Perjalanan saya diakhiri dengan naik pedahu. Iya PEDAHU bukan PERAHU lho. Ini seperti perahu kecil yang terbuat dari batang pohon yang bagian isinya sudah dikeruk. Yay! Seneng banget karena belum pernah naik perahu sekecil ini dan tanpa motor! Ayo semangat dikayuh pake sampan!

Ahhh…benar-benar akhir yang indah. Habis berlelah-lelah berjalan sekian kilo menanjak menurun dsb sekarang bisa santai menikmati indah dan tenangnya danau dari atas pedahu. What a life! God created a huge, beautiful, amazing world for us to explore. A lifetime is not enough to see it all.

 

 

Danau Buyan dan Danau Tamblingan berlokasi di Kecamatan Sukasada, 21 km sebelah Selatan Kota Singaraja, terletak di pinggir jalan Denpasar-Singaraja. Letaknya yang cukup tinggi yaitu kurang lebih 1000 m dari permukaan laut menyebabkan udaranya agak sejuk dan dingin pada malam hari. Sedangkan Danau Tamblingan dapat dicapai melalui pertigaan ke arah Desa Munduk, desa Gobleg dan tembus di Lovina. Sepanjang jalan ke danau ini dapat dilihat pemandangannya secara utuh. Dari Desa Munduk dapat dicapai danau melalui jalan swadaya masyarakat. Mobil dapat mencapai pinggir danau yang masih asri, dengan kawasan hutannya yang belum tersentuh.

Hmm…btw kok malah kepikran foto prewed di sini ya..haha #abaikan

Munduk: Surga Kecil di Dataran Tinggi Bali #RockOverIndonesia

Bulan Agustus tahun lalu saya melakukan sebuah perjalanan panjang mengeksplor keindahan alam Indonesia mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan dan Pulau Bali. Destinasi wisata yang saya kunjungi bukanlah destinasi wisata yang biasa dikunjungi oleh wisatawan lokal yang cenderung ke tempat-tempat “populer” dan juga berorientasi shopping. Perjalanan yang saya lakukan murni mengeksplor alam, budaya dan kehidupan masyarakatnya. Kegiatan yang biasa saya lakukan mulai dari trekking, summit attack hingga diving.

Salah satu tempat yang saya singgahi adalah Munduk, sebuah desa kecil yang oleh wisatawan lokal bukanlah sebuah destinasi yang popular. Tapi justru karena itu saya suka dan begitu terkesan dengan desa kecil ini. Begitu tenang, begitu sunyi. Benar-benar sebuah tempat yang pas untuk menyepi. Munduk is a cute eco-friendly village! This beautiful village in north Bali was once popular place for Dutch colonist to escape the heat from Singaraja, so they build their rest houses here for visitors in 1903.

Munduk est un village typique perché dans ses collines couvertes de jungles et de rizières. Le petit village de Munduk, dans les montagnes du nord. On y trouve enfin le Bali dont on avait rêvé : des rizières en terrasse à couper le souffle, des cascades au milieu de la forêt, des plantations d’arbres fruitiers. Les randonnées y sont tout simplement extraordinaires. C’est le genre d’endroit où on pense rester une journée et où on s’attarde au moins plusieurs jours.

Melanting waterfall

Rizieres

Le village est un « classique » d’Indonésie, c’est-à-dire une route (très bruyante) qui le traverse et quelques boui-bouis de part et d’autre. Autrement c’est le charme absolu ! Le village donne de chaque côté sur des collines de rizières ou de plantations, encadrées par les volcans alentours, et terminées par la mer qu’on aperçoit au loin.

C’est le garde-manger de l’île : girofliers, caféiers, cacaotiers, bananiers, manguiers, tomates, haricots… les potagers se succèdent le long de la route. Il y a même des parcelles couvertes de fleurs pour la confection des offrandes aux dieux : les hortensias bleu-pâle et les oeillets d’Inde oranges ont du succès.

Vue sur les girofliers, âgés d’une cinquantaine d’années, plantés par les parents du propriétaire lorsqu’il était enfant.

munduk

IMG_5652

IMG_5653

IMG_5656

Niveau nature, je pense que l’on a fait un échantillon représentatif des alentours de Munduk. Je suis contente de l’avoir vu mais n’y passerai pas une semaine !

Mt.Batur: Taking a Deep Breath #RockOverIndonesia

In 2012, I’ve been traveling to many places and staying in different type of accommodations. But I gotta admit, this one volcano called Mount Batur stayed in my head until now. I traveled there in end of August 2012, so yeah it’s been 4 months away.

Let me share why I think Mt.Batur is fascinating…

 

IMG_5669

Puncak Gunung Batur di bulan Agustus

 

Gunung Abang, tetangga Gunung Batur.

 

Gunung Abang dilihat dari puncak Gunung Batur.

Danau di antara Gunung Batur dan Gunung Abang.

Danau Batur

 

Located in Bangli regency, Kintamani offers a greeny beautiful scenery with magnificent view of Batur volcano and the lake. Batur volcano it self has erupted about 24 times during early year 1800. Many damages happened along it eruption. It’s seen from the lines of larvae are still seem obvious around the volcano. Meanwhile, the lake is the largest one in Bali.

Bukan Bali kalau tidak kaya akan tradisi. Ada satu hal yang membuat saya terkejut ketika mendaki Gunung Batur. Ternyata Gunung Batur ini oleh orang Bali dikelilingi oleh kain warna putih seperti halnya masyarakat Bali “menyarungi” pohon dengan kain hitam putih khas Bali. Bayangkan betapa panjang dan melelahkannya harus melakukan itu! WOW!

Gunung Batur ini sudah ditetapkan sebagai salah satu Geo Park di dunia. Lokasinya bena-benar unik menurut saya. Berjejeran dengan Gunung Abang dan Gunung Agung. Ada sebuah danau yang cantik di antara Gunung Batur dan Gunung Abang. Rute untuk menuju ke sana juga merupakan sebuah keindahan tersendiri yang bisa dinikmati. Well, saya tidak akan menolak jika mendapat kesempatan untuk bisa kembali ke sana.hehe 😀

Eco Tourism … Ayo jadi Traveler & Travel Writer yang Bertanggung Jawab!

Bonsoir !

Il est 23h50, je suis en train d’ouvrir mon twitter. Lagi asik-asik ngadepin TL tiba-tiba saya menemukan sebuah link artikel yang menggugah dari salah satu akun twitter tentang travelling yang saya follow.

Artikel ini merupakan tulisan dari salah seorang blogger tentang betapa pentingnya sebagai seorang travel writer kita tidak hanya bisa menulis dan menyajikan foto yang menarik bagi pembaca, namun juga harus bisa bertanggung jawab dengan tulisan dan destinasi wisata yang kita bahas. Ini dia link dari artikel yang saya maksud http://t.co/EtyY66Ty .

Saya pribadi setuju sekali dengan isi artikel tersebut. Berikut beberapa bagian menarik dalam tulisan itu.

“Perilaku egois, narsis dan kekanak-kanakan ini menyebar seperti virus. Menjangkiti banyak orang bahwa traveling adalah perilaku keren nan kece yang harus dilakukan. Bahwa menikmati hidup di luar memejalkan diri untuk melakukan perjalanan jauh dan eksotis adalah keren. Tidur di bandar udara berbekal sleeping bag, melakukan perjalanan ke luar negeri berbekal uang seadanya, menembus hutan lindung dan memotret pemandangan langka nan indah memang adalah kegiatan debar yang melenakan”. 
“Saya khawatir hanya sedikit travel writer yang punya kepedulian semacam ini. Mereka datang hanya untuk bersenang-senang, menulis, foto-foto lantas lupa atau bahkan tak tahu apa akibat dari tulisan mereka itu. Banyak travel writer yang berpikir sempit bahwa dengan mempromosikan satu destinasi akan menarik turis yang bisa memberikan pemasukan tambahan. Tapi sedikit dari mereka yang sadar akibat dari turisme masal adalah masuknya nilai-nilai asing yang bisa jadi merusak kebudayaan lokal”.

 “Perjalanan semestinya mendewasakan. Travel writer yang telah menempuh banyak destinasi, belajar banyak kebudayaan dan menikmati berbagai perjalanan harusnya mengalami ini. Sayangnya beberapa travel writerhanya menganggap melancong adalah sebuah pekerjaan. Sebuah bisnis yang tak menuntut adanya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Pergi melancong, tulis artikel, terbitkan dan habis perkara. Mereka lupa bahwa destinasi yang mereka tuliskan adalah rumah bagi seseorang, sebuah tempat bernaung dan berlindung bagi yang lain”. 

Itu adalah beberapa bagian yang saya anggap menarik dari artikel tersebut.

ecotourism

Setelah membaca itu ada sesuatu yang menohok di dalam hati saya. Sedikit banyak saya jadi ikut tersindir juga karena secara tidak langsung saya memang berhubungan dengan dunia tourism. Saya suka travelling, saya suka menuliskan pengalaman travelling saya dalam blog dan kebetulan juga saya bekerja dalam bidang yang berhubungan dengan tourism.

Saya jadi termotivasi untuk menjadi seorang travel writer yang bertanggung jawab. Yaah..walaupun sebenarnya prinsip eco tourism sudah lama saya anut, tapi semenjak sekarang saya jadi lebih hati-hati soal yang satu ini. Karena bagaimana pun juga saya ingin ikut melestarikan setiap destinasi wisata yang saya kunjungi, khususnya alam, agar bisa dinikmati oleh anak cucu saya nantinya. 🙂

Ini nih prinsip dasar eco tourism yang wajib dipahami, diresapi dan dilaksanakan dengan hati.

ecotourism(1)

So.. ayo jadi traveler dan travel writer yang bertanggung jawab! 😀

Sweet Escape to Mt.Bromo #RockOverIndonesia

Oke agak telat pake banget syh sebenernya baru diposting sekarang. Tapi tak apalah ya daripada gag sama sekali.

Well, inilah sedikit cerita perjalanan saya ke Gunung Bromo. Sebelumnya pernah saya #kultwit kan di akun twitter saya. Namun baru sekarang sempat mempostingnya ke blog. hehe

Hmm..Gunung Bromo (dari bahasa SanskertaBrahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten ProbolinggoPasuruan,Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Bromo ini dulunya merupakan gunung tertinggi di Jawa, tingginya sekitar 4000dpl. Namun, sekitar 1 juta tahun yang lalu meletus hebat sehingga puncaknya ambruk ke dalam dan membentuk kaldera.

Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terkenal di Indonesia. Keindahannya bahkan sudah mendunia. Beruntung sekali saya bisa mengunjungi Gunung Bromo lebih dari sekali. Dari pengalaman itulah saya dapatkan berbagai pengalaman yang berbeda tiap kali saya berkunjung ke sana.

Bagi para traveler, hal pertama yang dipikirkan mungkin adalah budget. Berapa syh budget yang dikeluarkan untuk bisa menikmati keindahan Gunung Bromo?. Kemudian bagaimanakah cara menikmati keindahan Gunung Bromo agar bisa didapatkan kepuasan yang maksimal.

Cara paling nyaman untuk sampai ke sana menurut saya adalah melalui jalur darat menggunakan mobil. Sekalipun waktu tempuhnya bisa seharian lebih, tapi jauh lebih fleksibel karena di sana minim sekali angkutan umum. Oiya di desa Ngadas yang terletak di sekitaran Gunung Bromo adalah tempat bermukimnya masyarakat Suku Tengger yang menganut Hindu-Budha, mereka adalah keturunan terakhir Majapahit. Suku Tengger ini sendiri dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, mereka biasanya bertani sampai ke puncak-puncak bukit.

Waktu paling baik untuk menikmati keindahan Gunung Bromo adalah saat terbitnya matahari, jadi usahakan malam sebelumnya sudah sampai di Cemorolawang untuk bermalam dan menyewa jeep yang akan digunakan untuk menanjak menuju pos di Gunung Pananjakan. Ingat, karena kita akan menikmati sunrise, maka jeep berangkat pukul 04.00 pagi MAKSIMAL. Pastikan itu ketika anda membooking jeep dan jangan lupa HAPALKAN PLAT NOMORnya, karena di pos Pananjakan nanti akan ada ratusan jeep yang warnanya sama, jadi bisa saja Anda kesulitan menemukan jeep yang membawa rombongan Anda. Untuk menginap ada dua hotel yang letaknya paling dekat untuk mencapai Bromo, yaitu Bromo Permai, Lava View Lodge, dan Lava view Hostel. Selain itu masih ada juga beberapa hotel lain namun letaknya relatif jauh. Jadi saya sarankan jika Anda ingin menginap pilihlah di antara 3 hotel tersebut. Range harganya sendiri tergantung musim, apakah itu low session (Januari-Mei), high session (Mei-September) atau peak session (September-Januari). Kebetulan saya sudah pernah menginap di tiga hotel tersebut, dan jika saya harus memilih maka Lava View jadi pilihan terbaik saya karena posisinya tepat di pinggir kaldera Bromo !!.

Satu hal lagi, pastikan Anda membawa baju hangat karena udara sangat dingin, masker karena pasir di kaldera Gunung Bromo akan mengganggu kenyamanan Anda, kacamata, dan tentunya kamera untuk mengabadikan momen indah Anda. J

Salah satu hal yang terbaik dari Gunung Bromo adalah pemandangannya yang spektakuler berjejeran dengan gunung-gunung lain, sebut saja Gunung Batok, Gunung Kursi dan Gunung Semeru. Ada satu tips rahasia bagi pecinta fotografi nyh, Gunung Semeru tiap 15-20 menit sekali meletus, jadi tangkaplah moment itu dan Anda akan mendapatkan foto yang luar biasa !. Untuk itu hindari musim penghujan ketika Anda berniat mengunjungi Bromo agar kepuasan maksimal bisa tercapai.

Setelah menikmati sunrise di pos Penanjakan, sekarang saatnya mendaki puncak Bromo. Hal pertama yang harus dilalui adala savanna dan kaldera Bromo. Tak ada salahnya Anda berhenti di dua tempat ini karena pemandangannya sungguh menakjubkan.  Jangan lewatkan pula pura yang ada di tengah kaldera Bromo, namun jika Anda wanita yang sedang menstruasi sebaiknya jangan masuk dulu ya. Nah untuk mendaki sampai ke puncak Bromo ini sebenarnya susah-susah gampang. Rintangannya adalah kaldera pasir yang terkadang pasirnya berterbangan tertiup angin, teriknya matahari, jalannya yang naik (namanya juga summit attack), dan 246 anak tangga yang harus dilalui sebelum mencapai puncak. Well, bagi Anda yang tidak terbiasa berjalan atau olahraga mungkin hal ini terasa berat, namun sebenarnya tidak sesulit itu kok. Hehe 😀

Inilah beberapa foto yang saya abadikan … enjoy!

Foto dulu sebelum muncak ...brrrr

 

Sang surya yang masih malu-malu

Subhanallah...gag nyesel jauh-jauh ke sini!

bromo 12

eh ketemu sama presenternya Metro TV !

Travel mate saya kali ini :D

Secuil vegetasi di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Jeep yang membawa saya selama di sini

Hamparan kaldera yang akan saya  lewati nanti

wohoooooo!

Salah satu sudut persembahan masyarakat Suku Tengger

biar panas tetep smangat menerjang kaldera! ^^

Pure di tengah kaldera Bromo dari masyarakat Tengger

Gunung Batok, tetangganya gunung Bromo

semangat kawan!

kalo liat foto ini berasa ad nuansa magisnya

Nah itu tadi rincian kegiatannya sekarang kita bahas budgetnya ya :

Misalkan anggap saja berangkat hari Sabtu pagi dan Pulang Minggu

Bensin          : 800.000 (tergantung dari mana Anda berangkat ya)

Makan          : 100.000 (sesuaikan dengan kebutuhan Anda)

Tiket masuk : 25.000 (tahun 2012)

Sewa jeep    : 450.000 (tahun 2012)

Hotel           : 713.000 (Lava view lodge, Bungalow double di masa High session rate belum termasuk pajak 20% )

TOTAL        :Rp 2.230.600, 00

*Room facilities di hotel sudah termasuk:

  • Welcome drink
  • Tea or coffee maker
  • 2 bottles of 350ml dringking water(jumlahnya bervariasi tergantung tipe kamar)
  •  TV, hot and cold shower
  • Buffet breakfast

 

Karena saya meningap di Lava View Lodge, berikut ini saya jabarkan rincian harganya:

Low Session Rate (from January 05, 2012 to May 01, 2012)

  1. Family room: 950.500
  2. Bungalow triple: 726.000
  3. Bungalow double 634.000
  4. Standard superior twin: 554.500
  5. Standar superior double: 554.500
  6. Extra mattres: 220.000
  7. Additional person charge shared stay: 165.000
  8. Breakfast only: 44.000

Nb: harga di atas belum termasuk pajak 20%

 

High Session Rate (from May 02, 2012 to September 20, 2012)

  1. Family room: 1.188.000
  2. Bungalow triple: 792.000
  3. Bungalow double: 713.000
  4. Standard superior twin: 634.500
  5. Standar superior double: 634.500
  6. Extra mattres: 220.000
  7. Additional person charge shared stay: 165.000
  8. Breakfast only: 44.000

Nb: harga di atas belum termasuk pajak 20%

 

Peak Session Rate (from September 21, 2012 to January 04, 2013)

  1. Family room: 1.346.500
  2. Bungalow triple: 858.000
  3. Bungalow double: 792.000
  4. Standard superior twin: 713.000
  5. Standar superior double: 713.000
  6. Extra mattres: 220.000
  7. Additional person charge shared stay: 165.000
  8. Breakfast only: 44.000

Nb: harga di atas belum termasuk pajak 20%

Itu anggaran paling minimnya, selebihnya disesuaikan saja dengan budget dan kebutuhan masing-masing ya. Tentunya siapkan uang lebih untuk pengeluaran tak terduga dan oleh-oleh mungkin?hehe…sekian pembahasan dari saya, semoga bermanfaat. 😀