Saham Untuk Pemula: Hal-Hal Yang Perlu Kamu Tahu!

Postingan pertama tahun 2019!

Hai hai…akhirnya hadir kembali di blog ini. Demi tercapainya resolusi 2019 untuk lebih banyak bikin #PostinganBerfaedah, mari awali tulisan kali ini dengan membahas yang rada berbobot dikit. Untuk kamu followers saya di Twitter dan Instagram mungkin tahu kalo beberapa waktu lalu saya sempat menulis cuitan di Twitter dan postingan Instagram Stories tentang saham. Rupanya dari sini dapet feedback yang gag saya duga. Banyak pertanyaan dan berbagai respon seputar postingan saya itu.

Pic from here

Nah! Untuk menjawab semua itu, sesuai hasil voting, maka pembahasan seputar saham akan saya tulis di sini ya. Saya akan berusaha menjelaskan sesederhana mungkin agar mudah dimengerti. Sekali lagi, di sini posisi saya bukan sebagai ahli ekonomi atau pakar yang ahli banget ya, saya pun juga terus belajar dari waktu ke waktu. Apa yang saya bagi sesuai dengan pengalaman saya sendiri, jadi mungkin kamu bisa pakai ini sebagai tambahan referensi aja biar pikiranmu lebih terbuka. Tentunya kamu juga harus cari-cari referensi lain yang lebih relevan ya untuk menunjang informasi yang saya sampaikan.

Baiklah mari kita mulai, ehem!

Sebelumnya, kamu sudah tahu belum syh saham itu apa? Pasti sering denger kan ya. Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan/perseroan. Gampangnya, kalo saya beli saham berarti saya beli perusahaan tersebut.

Saya sendiri tahu saham itu saat masih SMP karena nonton talk shownya Oprah Winfrey Show pas sesi bahas keuangan dengan narasumbernya Suze Orman. Dari situ sebenarnya awal ketertarikan saya. Walaupun yah selama belum perpenghasilan sendiri kala itu cuma bisa menahan rasa penasaran aja. Giliran udah punya penghasilan sendiri baru deh makin cari info buat dieksekusi.

Untuk memahami konsep saham kita harus tahu bagaimana cara perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis dalam pasar modal. Ada 2 cara yang digunakan, yaitu:

1. PINJAM PUBLIK – di sini perusahaan mengeluarkan surat utang/obligasi.

2. AJAK PUBLIK – di sini perusahaan menawarkan sahamnya kepada publik/IPO (Initial Public Offering).

Lalu di mana kita bisa beli saham donk? Kalo kamu jawab di Bursa Efek Indonesia (BEI) maka jawaban kamu SALAH. Ibarat sebuah mall yang ada toko-tokonya, BEI ini adalah mallnya. Toko-toko yang jualan biasa disebut anggota bursa. Sementara barang yang dijual, dalam konteks ini adalah saham dari emiten (emiten=perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI). Kita sebagai pembeli kemudian disebut sebagai investor. Semoga sampai di sini penjelasan saya cukup dimengerti ya.

Oke lanjut, terus kenapa syh harus investasi? Ya karena ada inflasi. Lho emang inflasi itu jelek? Gag ada ukuran inflasi yang baik? Jadi, inflasi selalu berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang masih dalam kategori baik adalah ketika inflasi tersebut tidak lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama.

Untuk itu investasilah di instrumen yang tepat dan dilindungi hukum. Apakah investasi saham dilindungi hukum? Tentu iya.

Landasan hukum dan peraturan Pasar Modal Indonesia yaitu:

1. UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal.

2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan bidang Pasar Modal tahun 2015.

3. Peraturan-peraturan Bursa Efek Indonesia.

4. Fatwa DSN MUI No.80 tahun 2011 tentang penerapan syariah di Bursa Efek Indonesia.

Sayangnya, walaupun landasannya sudah ada dan kuat, banyak persepsi negatif tentang saham di masyarakat. Umumnya masyarakat masih menganggap itu judi, haram, riba, kemudian cerita-cerita negatif tentang orang-orang yang bangkrut karena saham dll. Padahal itu semua hanya faktor ketidakpahaman saja. Jangan salahkan instrumen investasinya, tapi kembali lagi ke orangnya apakah sudah mengambil langkah yang tepat dan memiliki bekal yang cukup. Ingat, Trading saham TIDAK SAMA dengan nabung saham. Ini yang sering kali orang keliru.

Jika memang masih baru belajar dan resiko yang lebih kecil, maka nabung saham itu lebih cocok. Satu hal lagi yang harus dicamkan, ketika berinvestasi di saham maka target kita ya target jangka panjang, bisa 10 tahun atau lebih. Kalo baru setahun dua tahun udah protes kok gag untung-untung, untungnya segini-segini aja atau malah rugi ya lucu. Itulah kenapa ikut ‘gerbong’ saham perusahaan yang tepat adalah salah satu cara untuk mendapat hasil yang maksimal. Bagaimana memilih saham yang tepat? Nanti kita bahas di belakang, sekarang landasannya dulu ya.

Kembali lagi ke soal investasi, di sini kamu sebagai investor harus punya dasar pertimbangan sebelum berinvestasi. Tentukan berapa jumlah dana yang akan diinvestasikan, tentukan instrumen investasinya, tentukan tujuan investasi, berapa waktu yang ditargetkan, berapa besar keuntungan yang ingin diperoleh, dan perhitungkan seberapa besar resikonya.

Jenis instrumen investasi kan macam-macam, karena di sini yang dibahas adalah saham, jadi kita fokus ke saham aja ya. Untuk instrumen investasi jangka panjang, saham memberikan return yang yang paling tinggi. Terus keuntungan dari saham itu asalnya dari mana donk?

Keuntungan dari saham:

–          Capital gain, yaitu selisih dari harga jual dan harga beli.

–          Dividen, yaitu pembagian keuntungan perusahaan dalam bentuk tunai.

–          Bonus shares, yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada investornya.

–          Stock split, yaitu pemecahan nilai saham yang dinilai terlalu tinggi untuk meningkatkan likuiditas dari saham tersebut.

–          Kesempatan untuk mengikuti RUPS ( Rapat Umum Pemegang Saham).

 

Sekarang coba kita ambil contoh ilustrasi agar kamu ada bayangan soal saham ini.

Contoh 1

Unilever pertama kali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1982 dengan harga 1 lembar saham Rp 3.175,00. Pada tahun 2018 harganya sudah melonjak Rp  54.950,00 per lembar. Pertumbuhannya mencapai 25% per tahun.

Contoh 2

Jika pada tahun 1993 kamu punya uang 8 juta, kamu pilih beli Honda Tiger produk dari Astra atau beli sahamnya Astra aja?

Pada tahun 1993, dengan uang 8 juta kamu bisa membeli saham Astra seharga Rp 109,00 per lembar, yang berarti kamu punya sekitar 73.000 lembar saham. Kemudian pada tahun 2018 harga per lembar saham Astra adalah Rp 8.450,00, artinya nilai sahammu jika dirupiahkan pada tahun 2018 adalah Rp 616.850.000, 00.

Itu sekilas contoh dari masa lalu. Kalo sekarang untuk pembelian saham minimal 1 lot, 1 lot yaitu 100 lembar. Sekarang kita menuju bagaimana cara menabung saham ya.

1. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuka rekening efek di perusahaan sekuritas. Perusahaan sekuritasnya kamu bisa pilih mana saja sesuai keinginan kamu. Kalo dulu saya buka rekening di IndoPremier, atau orang kadang menyebutnya Ipot. Pertimbangan saya kala itu karena reputasinya bagus (setelah cari info sana sini tentunya), platform aplikasi onlinenya juga oke, dan kantor offlinenya relatif dekat kantor saya sehingga kalo ada apa-apa gag males ngurusnya. Hehehe…

Berkas-berkas yang perlu disiapkan untuk membuka rekening efek antara lain:

a)      Foto copy KTP

b)      Foto copy NPWP (NPWP harus atas nama sendiri, jika sudah menikah dan NPWPnya jadi satu dengan suami maka harus dilengkapi foto copy Kartu Keluarga)

c)      Foto copy halaman pertama buku rekening tabungan

d)      Foto diri (selfie dengan memegang KTP asli).

Oiya jangan lupa berjaga-jaga bawa materai 6000 2 lembar, dulu saya iseng bawa eh ternyata kepake juga buat pas pengisian berkas-berkas.

Untuk proses pembuatan akun biasanya memakan waktu sekitar 2 hari. Tapi kala itu saya beruntung cuma dalam hitungan jam. Masih inget banget pas bikin itu sekitar jam istirahat siang kantor, terus sekitar jam 7 malam saya udah dapat email notifikasi kalo akun saya sudah jadi. Nah ketika akun sudah jadi, kita akan mendapat SID (Single Investor Identification adalah nomor tunggal identitas investor pasar modal indonesia yang diterbitkan oleh KSEI) dan SRE (Sub Rekening Efek adalah Rekening efek yang digunakan untuk menyimpan portfolio saham atas nama nasabah yang dicatatkan pada KSEI).

Selanjutnya saya tinggal menunggu akun RDN (Rekening Dana Nasabah adalah Rekening dana pada bank administrasi atas nama nasabah (terpisah dari rekening dana milik sekuritas) yang digunakan untuk keperluan penyelesaian transaksi saham). RDN saya jadi kala itu memakan waktu sekitar 2 hari. SID dan RDN ini hukumnya wajib ya untuk bertransaksi saham. Kamu gag akan bisa bertransaksi kalo gag punya itu. Selanjutnya kamu tinggal menunggu kartu akses dari KSEI, untuk ini biasanya bisa agak lama. Tapi tenang saja, kamu sudah bisa bertransaksi kok walaupun kartu dari KSEI belum jadi. Kartu AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) adalah kartu identitas investor yang diterbitkan oleh KSEI untuk memberikan perlindungan investor dengan meningkatkan transparansi informasi atas portofolio investasi mereka yang tersimpan di KSEI.

2. Langkah kedua dalam nabung saham adalah tentukan nominal dana yang ingin disisihkan untuk nabung saham. Pertama kamu isi dulu RDN kamu dengan saldo yang kamu kehendaki. Untuk langkah awal coba-coba gag usah isi banyak dulu. Kalo dulu saya  iseng isi 55 ribu dulu.

3. Langkah ketiga tentukan saham yang ingin ditabung. Dalam dunia saham, pelaku industri membagi 3 jenis lapis saham: Saham lapis pertama/first liner/blue chip, saham lapis kedua/second liner, dan saham lapis ketiga/third liner. Untuk pemula dan faktor keamanan sebaiknya pilih saham blue chip ya. Harganya memang relatif mahal, tapi memiliki pondasi yang lebih kuat dan menjanjikan. Namun karena saya kala itu sedang ngetes dulu, saya iseng beli saham yang murah-murah dulu. Untuk selanjutnya baru deh beli saham blue chip.

4. Setor dana secara rutin setiap periode. Usahakan konsisten ya. Misal kamu rencananya sebulan sekali ya sebulan sekali harus diusahakan, agar hasilnya maksimal juga.

5. Beli saham secara rutin setiap periode. Sebaiknya kamu fokus pada 2-3 maksimal saham yang kamu beli tiap bulannya. Gag usah terlalu banyak jenis dulu. Fokus aja pada 1-2 area. Misal consumer goods kamu bisa pilih saham dari Unilever, dari telekomunikasi bisa pilih Telkom yang kinerjanya relatif lebih bagus dibanding sejenisnya, atau saham dari Astra juga bisa, atau mungkin dari sektor perbankan juga bisa. Bebas,  yang penting jangan kebanyakan agar monitoringnya gag susah.

Lalu bagaimana kita memilih saham yang bagus untuk jangka panjang? Ada beberapa kriteria yang bisa kita pakai, di antaranya:

1. ROE (Return of Equity) lebih dari 15%

2. Market capitalizationnya besar (lebih dari 20 T)

3. Defensive sector, misalnya: banking, consumer goods.

4. Up trend

 

Nah untuk melakukan analisis dalam pertimbangan pemilihan saham yang bagus sebenarnya ada beberapa teknik. Bisa lewat analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental biasanya untuk menjawab pertanyaan WHY, PROFITABILITY dan VALUE. Analisis teknikal biasanya untuk menjawab pertanyaan WHEN.

Kedua analisis ini kalo dijabarkan bakalan panjaaaang banget. Saran saya kamu cari referensi lain juga untuk memperdalam 2 teknik analisis ini ya. Banyak kok yang bahas ini di internet. Jadi di sini saya akan bahas sedikit kulitnya aja.

1. ANALISIS FUNDAMENTAL

Analisis fundamental adalah analisis yang mempelajari data keuangan perusahaan, manajemen, dan faktor-faktor ekonomi industri yang mempengaruhi kondisi bisnis ekonomi usaha tsb.

Ada beberapa rasio-rasio keuangan perusahaan yang bisa dijadikan tolak ukur ketika kita memilih saham, yaitu:

a. EPS (Earning Per Sheet)- rasio yang digunakan untuk melihat laba yang dihasilkan perusahaan dalam periode laporan keuangan (biasanya 1 tahun) per lembar sahamnya.

Tips: minimal 10% (> industri)

Makin tinggi makin bagus untuk waktu ke waktu.

b. PER (Price Earning Ratio) – seberapa tinggi harga suatu saham apabila dibandingkan dengan laba yang dihasilkannya per lembar saham.

PER membandingkan harga suatu saham di pasar dengan EPSnya. Contoh: PER 1x artinya harga saham sama dengan laba yang dihasilkan. PER 2x artinya harga saham 2 kali lipat daripada laba.

Tips: maksimal 20x (< industri)

Makin kecil makin bagus

c. PBV (Price to Book Value) – perbandingan harga yang ada di pasar dengan nilai jual perusahaan saat dilikuidasi.

Contoh: PBV 1x artinya harga pasar sama dengan nilai jual sesungguhnya. PBV di bawah 1 artinya harga pasar lebih kecil dari nilai sesungguhnya.

Tips: semakin kecil rasio semakin baik.

d. ROE (Return of Equity) – kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba bersih. Ini menjadi indikator seberapa efisien perusahaan.

Contoh: ROE 10% artinya manajemen bisa mengembalikan modal sendiri yang disetor oleh para pemegang saham dalam waktu 10 tahun (akumulasi 100%).

Tips: minimal 10% (>industri)

Makin tinggi makin bagus untuk waktu ke waktu. Semakin besar rasio maka akan semakin efisien.

e. DER ( Debt to Equity) – membandingkan hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendirinya. Perusahaan yang mempunyai hutang lebih besar dari modal maka tinggi resikonya.

Contoh: DER 1x artinya hutangnya sama dengan modalnya sendiri.

Tips: makin kecil makin bagus (kurang dari 1)

f. DIVIDEN YIELD (DY) – seberapa royalnya mayoritas pemegang saham perusahaan terhadap pemegang saham publik.

Tips: Minimal 3% rasio per tahun

Makin tinggi makin bagus.

 

Itu tadi sekilas tentang analisis fundamental. Sebenarnya masih bisa dijabarkan lagi lebih dalam. Kamu cari-cari sendiri ya referensinya karena akan terlalu panjang jika dibahas di sini.

Sekarang kita menuju ke analisis selanjutnya…

2. ANALISIS TEKNIKAL

Secara umum jika kita memakai analisis ini untuk membaca hal-hal sebagai berikut:

a. Data historis berupa grafik.

b. History repeat itself.

c. Perilaku manusia dalam menghadapi situasi serupa, cenderung sama dan berulang.

d. Perikaku yang sama membentuk pola.

 

Analisis teknikal ini banyak dipakai oleh trader. Seperti orang berdagang, ada aktifitas kegiatan yang rutin terjadi.

1. Berbisnis

2. Short term

3. Pelipatgandaan modal

4. Peduli fluktuasi

 

Analisis teknikal ini erat kaitannya dengan TIMING (entry & exit), MONEY MANAGEMENT ( fund allocation, risk & reward), dan PSIKOLOGI (trading plan).

Bagi saya part paling seru dari analisis teknikal itu saat membaca grafik. Rasanya dagdigdug saat analisis kita bakalan terkonfirmasi apa gag, grafiknya bakalan break out atau malah break down, trus grafiknya membentuk pola apa, dst. Jadi, saya sarankan kamu juga cari referensi lain yang lebih detail soal ini ya, karena sesungguhnya pembahasannya bisa dalem banget kalo mau diulik. Kalo mau nyari buku soal analisis teknikal bisa baca Technical Analysis for Mega Profit yang ditulis oleh Ediyanto Ong, di situ dibahas super lengkap. Tentunya sumber referensi lain bisa dari internet juga yang melimpah ruah. Memang memusingkan kalo mau belajar, tapi seru.

Ada baiknya kamu juga cek website BEI (Bursa Efek Indonesia) jika akan membeli saham, kemudian cek notasi khusus perusahaan untuk perusahaan-perusahaan yang sedang mendapat pengawasan. Notasinya seperti ini:

Kalo udah cek notasi khusus paling tidak kita sebagai investor tidak terjebak ke perusahaan yang beresiko tinggi atau sedang bermasalah.

Fyuuuhhh…panjang juga ya pembahasannya. Padahal ini gag mendalam banget. Semoga sampai di sini penyampaiannya cukup dipahami ya. Judulnya aja kan ‘Saham Untuk Pemula’, tentunya kan bahas yang dasar-dasar dulu aja kan ya. Hehehe

Oiya soal campaign #YukNabungSaham itu bagus syh, bisa mendongkrak jumlah investor dalam beberapa waktu terakhir. Tapi kalo boleh saya berpendapat, 100 ribu kalo buat ditabung saham tiap bulan itu kurang cucok. Kalo 500 ribu per bulan masih agak kerasa syh. Cuma akan lebih bagus lagi kalo belinya saham-saham blue chip aja, emang rada banyak keluar modalnya, tapi lebih cucok.

Misal kamu beli saham Unilever (UNVR), yang harga per lembar sahamnya pada tanggal 11 Januari 2019 adalah Rp 48.450,00. Maka nominal yang kamu perlukan untuk membeli saham UNVR sebesar 1 lot adalah = 100 x Rp 48.450,00 = Rp 4.845.000,00. Bayangkan jika kamu bisa membeli banyak lot dan beberapa tahun ke depan harga sahamnya terus naik, bisa-bisa jadi #CrazyRichSaham nyh.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah tidak ada investasi yang 100% aman. Strategi yang bisa kita lakukan ya meminimalisir resiko. Bagaimana caranya? Tentu membekali diri dengan informasi yang cukup dan berimbang agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Selain itu juga harus paham risk profile kita itu bagaimana. Dari sini paling tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam melangkah ke depan. Mumpung masih awal tahun, bisa jadi momentum yang tepat untuk bergerak demi masa depan yang lebih baik.

Gimana udah cukup ada gambaran belum soal saham? Semoga cukup menjawab rasa penasaran kamu ya. Cukup sekian dulu, kapan-kapan kalo ada yang seru lagi soal saham yang bisa dibahas bakal ditulis lagi deh. Semoga bermanfaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s