Pada Sebuah “Ketika”

Pada Sebuah “Ketika”

 

Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.

Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu?

Bukan cinta. Atau kecupan lewat kala senja. Tapi waktu.

Semakin singkat. Ingatan fotografis semakin tak bisa diandalkan ketika jejak-jejak mulai berkarat. Dan kamu tahu karat itu hama seperti binatang pengerat. Saya tidak lagi ingin kamu dalam satu kerat. Tidak cukup kuat. Imajimu tidak bisa menjelma nyata hanya dalam nyala lampu 25 watt. Dan waktu tersaruk-saruk di belakang kita dengan langkah-langkah berat.

Hanya waktu. Apakah aku meminta terlalu banyak?

[Tidak, kamu meminta terlalu sedikit. Kecanduan akan waktu ini seperti penyakit, sementara rentang hidup semakin sempit.]

Bisakah kita melahap bintang-bintang dengan mata saja? Pada sebuah ketika di mana akhirnya langit kita berbagi warna serupa. Ketika jendela tak perlu menjelma perantara untuk mengantarkan bingkisan kata-kata. Kedipan bulu mata adalah nyata. Setiap geraknya. Setiap helainya. Tanpa sela. Tanpa cela.

Sempurna.

Ini tak akan bertahan selamanya.

Aku tahu.

Cuma sementara.

Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?

Karena aku tidak meminta selalu.

Aku cuma minta secukupnya waktu.

Hanya waktu.

Untuk mencintaimu.

Advertisements

10 Alasan Mengapa Hingga saat ini Saya Tidak Menggunakan BlackBerry (BB)

Postingan ini iseng saya buat ketika hampir sebagian besar teman-teman saya sekarang menggunakan BlackBerry (BB). Entah kenapa untuk saya pribadi tak ada menariknya sama sekali beralih ke BB, masih mending android kalau saya diharuskan memilih.

Inilah 10 Alasan Mengapa Hingga saat ini Saya Tidak Menggunakan BlackBerry (BB)

 

  1. Karena hampir semua orang memakai BB, jadi nggak stands out kalau ikutan pakai BB
  2. Tidak mau ikut-ikutan menanyai semua orang “PIN BB lo berapa?” seakan-akan semua orang di dunia menggunakan BB
  3. Karena tidak diwajibkan
  4. Karena masih bisa telponan, SMS-an, cek email, Y!M-an, Twitter-an, atau internetan tanpa BB
  5. Singkatan BB mengingatkan saya pada ‘Bau Badan’ dan membuat saya ilfil
  6. Karena tidak suka membuka akses terhadap diri sendiri selama 24 jam–padahal itulah ide besar BB, yang jadi mubazir kalau hanya aktif 8 jam sehari
  7. Karena suka mabuk darat jika messenger-an di jalan, maka fitur BBM (BlackBerry Messenger) tidak berguna untuk membunuh waktu dalam perjalanan dan hanya membuat mual.
  8. Kamera BB jelek, padahal saya sangat suka foto-foto diri sendiri
  9. Karena ingin menunjukkan pada dunia bahwa saya bisa hidup tanpa BB.
  10. Karena pacar saya tidak menggunakan BB 😀

 

Sekian postingan tidak penting dari saya. Tidak ada maksud sama sekali untuk menjelek-jelekan merek tertentu. Murni keisengan pembunuh waktu semata. Hehe :p