and look how far I’ve traveled! :)

Tentu saja, saya masih suka mellow dan menye-menye di kala hujan, menaburkan kata-kata manis dan meromantisasi suasana hati, atau sekadar bercerita tentang hari-hari yang dilewati.  Saya menangis, tertawa, patah hati, jatuh cinta… di sini. Kebodohan-kebodohan saya di masa lalu itu juga biarlah terekam semua hingga detik ini. Sebagai penanda bahwa saya pernah bodoh, saya pernah salah, saya pernah melakukan banyak hal yang saya sesali di kemudian hari, dan kemudian menemukan bahwa saya masih berada di sini. Baik-baik saja.

hold my hand. we’ll walk down the slippery world and come out alright. as long as you’re by my side.

Dan untuk semua yang pernah menyentuh kehidupan saya selama 4 tahun belakangan ini dan sempat menghabiskan waktu-waktu senggang mereka di sini, TERIMA KASIH 🙂

Advertisements

A Traveler Thought

After spending 2 months traveling around Java, Bali and Borneo, there’s one thing that keeps tickling my mind.

I met a lot of interesting people during my trip. Some of them are tourists on a short trip, some of them are on a two months holiday, some of them are on a year holiday (!!!) and.. some of them are… the residents of the islands (meaning: they were on holiday, but they loved the island too much then decided to stay!)

I envy those travelers who are on a year holiday. Isn’t it amazing to be able to travel for a whole year? Just traveling. Going from one island to another islands, one country to another countries. Countries hopping for a full year round. How cool is that? I want one, too!!!

And… I also envy those who decided to stay on the island in the middle of their trip. Some of them were planning to stay only for a few months, but ended up staying there already for a year, two years or even 5 years! That’s a very brave decision, I must say.

Some of my friends say that I’m a free spirit person. But I think, am nothing compared to these people! Talking to them, I could tell how free their spirits are… and also their way of thinking. I find it interesting how someone can just decide to stay in one place in the middle of going somewhere, for forever??
At first, I thought, there must be only young people who do this kinda thing as they have all the time in the world. They don’t really have to think of the career (as they’re still young anyway!), family (come on.. if you’re in your early twenties, would you think of settling down?), investing money (ok… forget about investment), etc.
But then I was wrong. Some of them aren’t young anymore. Some of them are actually in their mid thirties, late 30s or even 40s. Hmm.. that make me feel better, to be honest! That makes me think that maybe I shouldn’t really worry too much of all kinds of things. Investment? Who cares of investment. The investment industry isn’t doing so well anyway this year. So, might as well use the money for something else. Something more fun. Like… ehmm… living in an island, perhaps? 😉
Family? I personally believe that everyone has to be responsible for their own lives. I have the tendency to worry too much of my family (read: mum and brothers). But I think, all of them are grown-up people and all warriors have their own war to fight for. Right? So, I also have my own and shouldn’t worry too much of the others.

And now… the thought of living in an island always running around my head these days. Taking up the dive master course, then living in an island, somewhere, for a year… must be nice, huh? There’s nothing wrong for taking a 1 year break, I keep on telling myself as I’ve never done it. In my country, there are not many people taking a loooong break only for traveling.

But I have a different way of thinking. It’s definitely not a waste of time. In fact, a person can learn a lot from traveling. Learn from other people, other culture, the nature. That’s why I love to travel so much. Can’t get enough of it!

Hmm… so.. shall I take a year break and live in my chosen island? … *tempted… tempted*!

A Cup of Coffee

Kamu masih saja menemani cangkir-cangkir kopiku yang kesekian.

Aku selalu bilang bahwa kafein adalah stimulan yang terlalu melankolis. Apalagi ketika diiringi Owl City yang mengalun samar-samar di kejauhan; juga gerimis malam-malam. Rintiknya turun satu-satu seperti air mata. Kadang sulit buatku membedakannya. Sampai kemudian dia turun semakin deras. Dan yang ada bukan lagi hembusan dingin, tapi panas yang membakar. Di mata, pipi, hati… lalu aku akan beringsut turun dari tempat tidur, menyeret langkah ke dapur, dan menyeduh secangkir kopi lagi.

Ada saat-saat di mana kita tidak ingin tertidur. Terkadang ketika kita sedang teramat bahagia. Atau ketika kita sedang teramat sedih. Dan pada saat-saat seperti itu, mengapa selalu saja kamu? Selalu saja kamu yang masih menemaniku pada cangkir-cangkir kopi yang kesekian. Mungkin memang hanya kamu yang mengerti. Mungkin karena kita sudah sejak dulu terjaga bersama setiap akhir pekan. Mungkin karena aku percaya: bahwa walaupun kamu selalu lebih banyak diam, kamu selalu mendengarkan.

Terkadang kamu menemaniku dengan suara jangkrik dari kebun. Atau ributnya kucing-kucing yang sedang kawin. Terkadang cuma ada detik jam. Atau tiang listrik yang dipukul tiga kali. Terkadang kamu usil; mengirimiku tokek yang bersuara dari langit-langit di suatu tempat. Lalu aku akan mulai menghitung. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again…

The Journey

Don’t cry because it’s over, smile because it happened.” | Dr. Seuss

Suatu hari kawanmu bertanya: “What’s the worst thing that ever happened to you?”

Tanpa pikir panjang, kamu menjawab: “Being 17.”

Usia tujuh belas (juga dua atau tiga tahun sebelum dan sesudahnya), merupakan masa-masa paling sulit dalam hidupmu. Saat itulah kamu sungguh-sungguh berpikir untuk lari. Meninggalkan semua yang kamu miliki (atau semua yang tidak kamu miliki) di belakang. Memulai kehidupan baru di suatu tempat, di mana tak ada seorang pun yang mengenalmu.

Kamu mulai berpikir dan membuat daftar tentang barang-barang yang akan kau bawa di dalam ranselmu ketika kamu pergi: dompet, uang tabungan, akte kelahiran dan ijazah, buku-buku harian, novel-novel favoritmu, walkman dan kaset-kaset Eminem, juga kertas dan pensil. Ya, banyak kertas dan pensil. Kamu mulai memikirkan apa yang akan kamu makan nanti, di mana kamu akan tinggal, apa yang akan kamu kerjakan (warung makan, loteng atau gudang di rumah seseorang, menjadi pelayan di toko atau restoran).

Kamu juga sungguh-sungguh memikirkan tentang bunuh diri. Tentang siapa yang akan kehilanganmu, apa yang akan kau tuliskan di surat perpisahanmu, cara bunuh diri apa yang bersih, cepat dan tidak menyakitkan. Tentu ini berarti kamu tidak ingin menyayat nadi, menenggelamkan diri, atau terjun dari lantai atas sebuah gedung bertingkat. Mungkin kamu akan memilih arsenik jika kamu tahu di mana dan bagaimana kamu bisa mendapatkannya (lalu kamu tersadar bahwa kamu terlalu banyak membaca novel-novel detektif Hitchcock dan Agatha Christie).

Tetapi kamu tidak.

Tidak lari dan tidak bunuh diri.

Kamu memagari kamarmu dengan tumpukan buku-buku, tulisan-tulisanmu, kertas-kertas dari kehidupan yang lalu, cerita-cerita yang mengisi setiap ruang kosong dalam laci-lacimu, bunyi ketak-ketik di atas keyboard komputermu. Eminem marah dan menangis di dalam kepalamu. Kamu menemukan cara untuk merasa tidak sendirian. Akhirnya kamu bisa merasa bahwa kamu bukan satu-satunya. Kamu mencari lirik-lirik gelap dan sedih itu di Internet, menerjemahkannya menggunakan kamus Inggris-Indonesia, kemudian membacanya lagi berkali-kali hingga kertasnya lusuh dan nyaris sobek karena terlalu sering tertetesi air mata.

Kamu membawa walkman dan Eminem ke mana-mana; juga sebatang pensil untuk memutar kaset di dalamnya kalau kamu sedang ingin menghemat baterai.

***

Tadi pagi, kamu terbangun menjelang subuh. Ada suara burung kunti di kejauhan (kamu tak tahu nama burung itu, tetapi kamu menyebutnya burung kunti karena ia bersuara mengerikan), ditingkahi suara adzan dari masjid di dekat rumah.

Kamu bergelung kedinginan di tempat tidur, merapatkan selimut, dan mendengarkan. Kamu selalu suka suara-suara pagi. Suara-suara lewat tengah malam hingga sebelum matahari terbit. Suara-suara kesunyian. Tokek berbunyi dari suatu sudut di teras rumahmu. Dulu, kamu biasa menghitung dalam hati: he loves me, he loves me not, he loves me, he loves me not…

Tetapi kini kamu menikmatinya saja. Tak tahu harus mempertanyakan apa.

Perjalanan, sedianya membawa seseorang berpindah dari satu titik ke titik lain. Hanya saja, titik-titik ini tak selalu ditandai dengan tiket pesawat atau kereta api, bis malam menuju kota-kota yang tak bercahaya, atau sebuah rumah dengan teras lucu dan dapur kecil di dalamnya. Perjalanan tak menuntutmu bertemu orang-orang baru atau membawa kamera, atau membuat paspor dan membawa peta.

Terkadang yang kamu butuhkan hanya kesunyian. Mengheningkan tubuh, pikiran, dan hatimu. Kamu duduk di tempat yang sama, melihat jauh ke belakang, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum: menyadari bahwa satu perjalanan besar telah kamu lewati tanpa beranjak pergi.

Hatimu lapang.

Ya, kamu sudah pulang.