Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan

Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini.

Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” gak sih? :D ), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius :)

Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Boy”? :D ) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Boy sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para bapak/ibu bangsa, yang lebih muda dari Mas Boy tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.

Mas Boy masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Boy datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani yang tenang dan damai lebih penting lagi. Karena itulah Mas Boy tidak pernah silau dengan harta.

Mas Boy tumbuh dan besar dalam keluarga yang mementingkan memperlakukan semua manusia dengan baik, tanpa memandang bulu. Mas Boy diajarkan untuk tidak boleh mencurigai mereka yang berbeda. Karena itu Mas Boy berteman baik dengan semua orang, tanpa memandang agama, suku, golongan. Dan Mas Boy menilai kebaikan seseorang dari aksi dan tindakannya, bukan karena label agama atau sukunya. Kalau seseorang baik kepada sesamanya, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, ya dia orang baik, tanpa embel-embel lain.

Saat Mas Boy memasuki dunia politik, dia tahu dia membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Mas Boy tidak punya modal pribadi yang besar. Selain itu, mencurahkan banyak uang di awal berisiko menciptakan mental “balik modal” seperti yang banyak dimiliki banyak politisi sekarang. Tetapi Mas Boy juga tahu bahwa “dukungan dana” dari “sponsor” dan “donatur” berisiko hutang budi yang jadi masalah di kemudian hari. Maka Mas Boy memikirkan beberapa alternatif lain yang lebih baik.

Pertama, Mas Boy berusaha mencari media murah untuk membuat masyarakat mengenalnya. Social Media termasuk media murah meriah, yang semakin mudah diakses dengan semakin murahnya ponsel yang bisa mengakses internet. Facebook dan Twitter membuat Mas Boy lebih mudah diakses, selain itu juga memudahkan dia mengamati “bercakap-cakap” dengan banyak anggota masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu menghabiskan biaya dinas!

Mas Boy tidak punya uang untuk membeli slot waktu di TV. Dan Mas Boy tidak punya stasiun TV untuk keperluan mempromosikan dirinya. Jadi dia memanfaatkan “tv gratis” yang namanya YouTube. Dia akan merekam dirinya sendiri untuk menjelaskan cita-cita dan visinya tentang Indonesia, masalah-masalah negeri yang akan menjadi fokus perhatiannya, dan ide-ide konkrit untuk memajukan bangsa melalui media ini. Dengan ini banyak orang yang bisa mendengar langsung rencana-rencana Mas Boy via komputer di rumah, kantor, ponsel pintar, ataupun Warnet.

Tetapi tentu saja pengguna social media dan internet hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Tetap saja dana besar masih diperlukan untuk menjangkau banyak rakyat melalui media konvensional – apa itu iklan TV, cetak, radio. Belum lagi dana-dana lain yang terkait dengan kampanye, dll. Mas Boy pun pusing karena kebutuhan untuk donor tak terhindarkan lagi.

Akhirnya Mas Boy memilih ide radikal untuk pendanaannya, yaitu TOTAL TRANSPARANSI dan PENDANAAN MASYARAKAT. Dalam pendanaan oleh masyarakat, Mas Boy terinspirasi dengan tim sukses Obama yang menggerakan dukungan dari setiap lapisan masyarakat, sedollarpun pun bermakna. Pendanaan masyarakat ini digabungkan dengan Total Transparansi. Siapapun yang menyumbang akan DIUMUMKAN TERBUKA di website Mas Boy, tanpa memandang bulu apakah itu perusahaan besar atau masyarakat kecil. Dengan cara ini Mas Boy hendak menunjukkan itikad  baik dalam bentuk akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat sepenuhnya. Karena tidak ada arus dana yang “tersembunyi”, tidak ada yang perlu ditakuti akan diobok-obok di kemudian hari.

Selain itu, karena transparan, Mas Boy mau menghindari godaan perusahaan besar yang mau menyumbang tapi “ada maunya” nanti. Karena diberitakan transparan, perusahaan hitam pikir-pikir dua kali untuk menyumbang secara berlebihan karena akan dibaca oleh masyarakat.

Mas Boy sadar dia tidak akan mampu bersaing melawan calon-calon politik lain yang sendirinya adalah pengusaha berkantong tebal, atau memiliki koneksi dengan pengusaha. Tapi Mas Boy sedari awal tidak mau terjebak dalam pikiran “harus dapat untung, minimal balik modal” jika berkuasa. Dan tentunya Mas Boy tidak mau berhutang budi pada sekelompok kecil orang.

Jika harus berhutang budi, Mas Boy memilih berhutang budi pada RAKYAT. Dengan cara ini dia tahu bahwa jika dia berkuasa itu karena rupiah dari rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kerja yang jujur dan berintegritas.

Walaupun tidak berharap banyak pada mulanya, cara Mas Boy yang ‘nyeleneh’ ini mendapatkan perhatian banyak orang. Mirip dengan “Koin Untuk Prita” yang menjadi bola salju bergulir besar, metode Mas Boy yang bergantung pada rupiah dari rakyat mendapat sambutan hangat. Rakyat dari berbagai lapisan bersedia mendukung kandidat yang mau perjalanan politiknya BERSIH DARI AWAL. Sesuatu yang diawali dengan bersih, semoga berujung baik pula, demikian logikanya. Setiap hari, di website Mas Boy bisa dilihat siapa saja yang sudah menyumbang Mas Boy, termasuk jumlahnya.

Dan memang benar, walaupun dana yang diraih Mas Boy masih kalah dibanding politisi-politisi lain yang berbeking pengusaha, tetapi Mas Boy lebih tenang hati nuraninya. Dan juga tidak ada hutang budi pada pihak tertentu selain rakyat kebanyakan.

Dalam mempersiapkan tokoh-tokoh yang kelak akan membantu Mas Boy dalam menjalankan amanahnya jika terpilih, Mas Boy memilih orang-orang berdasarkan kompetensinya. Bukan karena sama agamanya atau sama sukunya. Cara Mas Boy dibesarkan yang diharuskan tidak mendiskriminasi orang memungkinkan Mas Boy mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Dan dengan cara ini, Mas Boy bisa mengenali bakat-bakat terbaik dalam menjalankan negeri, tanpa memandang latar belakangnya. Yang penting memiliki panggilan tulus untuk mengabdi masyarakat, memiliki kompetensi di bidangnya, dan karakter yang baik, maka itu sudah cukup.

Mas Boy juga memutuskan untuk tidak melibatkan keluarganya dalam politik. Mas Boy sudah membuat persetujuan dengan anak2 dan istrinya bahwa selama dia masih memegang jabatan, mereka tidak boleh ikut dalam politik. Walaupun terkesan kejam, Mas Boy hanya ingin memastikan bahwa tidak ada “conflict of interest” antara keluarga dan profesional. Dan “perjanjian” dengan keluarga ini dibuat public, supaya masyarakat menjadi alat kontrol pertama untuk pelaksanaannya.

Seluruh awal perjalanan karir Mas Boy ini bisa disummarykan sebagai spirit AKUNTABILITAS PADA RAKYAT SEJAK AWAL. Menghindari hutang budi pada pengusaha, menghindari hutang finansial dari diri sendiri, semuanya supaya tidak jadi hantu di kemudian hari. Dialog dan program transparan menggunakan sosial media adalah cara murah meriah untuk menjadikan Mas Boy mudah ‘diakses’ orang awam….

Sekian dulu mimpi gw tentang Mas Boy si Pemimpin Impian dan cara-caranya mengawali karir politik….

Mungkin ada pembaca yang mau “menyumbang” mimpi bagaimana Mas Boy bisa menjadi pemimpin impian? :)

 

Advertisements

Betapa Sayangnya “Sayang”

“Cowok itu ganteng sih, baik pula, sayang penampilannya nggak banget”

“Dia pintar dan cantik, sayang ngerokok”

“Sebenernya  dia udah suka sama gw, siap nikah pula, sayang dia kalo ngomong agak gagap”

Pasti udah sering deh denger kalimat di atas, dalam berbagai variasinya, iya kan? Formulanya biasanya:

(Sederet sifat baik yang menjadikan seseorang potensial jadi pacar/suami/istri) +sayang + (satu dua sifat jelek yang membuyarkan segalanya)

Posting ini terinspirasi twitter @louisajhe tadi pagi: “Just found out that handsome-elevator-dude is an active smoker :’(“ Jadi rupanya ada cowok kecengan yang selama ini di-ilerin di lift, jadi buyar karena ketauan merokok (Hi Jessica, kalo elu baca ini, maaf gw quote tanpa ijin :p)

Kayaknya inilah kodrat manusia, yang selalu mencari pasangan sempurna,sayang pencarian ini sering rontok karena ada ‘sayang’ dalam menilai seseorang:D

Tentunya gw bukannya tidak setuju bahwa seseorang harus punya kriteria dalam memilih pasangan, apalagi kalau sudah menjelang serius. Kita semua berhak mendapatkan seseorang berkualitas, dan yang cocok dengan kita. Mungkin masalahnya adalah ketika daftar kriteria kita tidak membedakan mana yang sifatnya “wajib” (must have), dan mana yang bisa dikompromikan (nice to have).

Soalnya kalau nguber Mr.  dan Ms. Perfect yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan, agak susah ya probabilitanya, apalagi kalo kriterianya semakin spesifik (“Gw hanya mau cowok yang bisa bikin 1000 candi dalam semalem”, misalnya) Ya bisa aja sih ketemu in real life, tapi seberapa besar peluangnya?

Gw pernah baca di buku “The Paradox of Choice” oleh Barry Schwartz, bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut “Maximizers”, yang satu lagi “Satisficers”. Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang TERBAIK (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik. Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari dan punya kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan “cukup baik”, ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.

Berdasarkan studi yang dikutip di buku itu, Maximizers mungkin akhirnya MEMANG mendapatkan barang/orang yang TERBAIK. Tetapi proses pencarian yang begitu melelahkan akhirnya membuat kenikmatan akhir menjadi berkurang, dan akhirnya tidak terlalu happy. Satisficers yang tidak terlalu ngoyo mendapatkan yang “less”, tetapi kebahagiaan akhirnya malah lebih tinggi. Kurang lebih formulanya adalah:

Kebahagiaan akhir dari mendapatkan sesuatu = Nilai dari obyek yang diperoleh – Jerih Payah untuk mendapatkannya

Bayangkan skenario mencari LCD TV. Si Maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai “10”. Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai “7/8”. Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer.

Kembali ke pencarian pacar. Mencari Mr./Ms. Perfect juga tentunya lebih melelahkan dan panjang (walaupun mungkin ada beberapa yang hokkie langsung dapet :D ), tetapi sayang juga kalau pengejaran Mr./Ms. Perfect ini malah mengorbankan Mr./Ms. Very Good yang sudah ada di depan mata…. :D

Selamat mencari Mr. dan Ms. Perfect!

Dan bagi yang sudah mendapatkan Mr./Ms. Very Good, selamat berbahagia! :)

Ekstrapolasi Pacaran Ke Pernikahan (Buat Yang Lagi Pacaran)

Tenaaang, gak usah panik, nanti gw jelasin apa artinya ‘ekstrapolasi’ :D

‘Ekstrapolasi’ sih bahasa begonya adalah memperkirakan nilai/kondisi sesuatu variabel, berdasarkan trend/pola variabel tersebut sebelumnya. (Definisi freedictionary.com:  To infer or estimate by extending or projecting known information. Lho, kok definisi Enggresnya lebih gampang dari definisi bego gua?). Contoh: kalo beberapa tahun berturut2 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi x%, maka seseorang bisa memprediksi pertumbuhan 2012 dengan mengekstrapolasi trend angka sebelumnya.

Asumsi dari ekstrapolasi adalah: perilaku suatu variable cenderung tidak berubah drastis. Karenanya ekstrapolasi digunakan untuk mengestimasi hal-hal yang sifatnya berubah secara steady/predictable. Contoh: pertumbuhan penduduk. Karena kemungkinannya kecil Indonesia dibom aliens yang tersinggung dengan jambul Syahrini, maka kita bisa pede mengekstrapolasi jumlah penduduk di tahun 2012, 2020, sampe 2050 – berdasarkan pertumbuhan penduduk yang kemarin (plus asumsi2).

Beberapa hari yang lalu gw mengetwit: “Kesalahan fatal adalah mengekstrapolasi  kebahagiaan saat pacaran ke pernikahan”. Berhubung media Twitter sangat terbatas, mungkin gw bisa elaborate sedikit maksud gw di blog ini.

Maksud twit gw adalah: banyak orang mengira kalau pengalaman pacaran bisa diekstrapolasi ke pernikahan. Artinya, kalau cocok dan happy di saat pacaran, maka semua pasti bisa ‘diteruskan’/diekstrapolasi ke pernikahan.

Ekstrapolasi dalam konteks ini bermasalah karena sebenarnya pacaran dan pernikahan bukan variable yang sama. Dua-duanya sangat berbeda, dari hal-hal sepele sampai hal-hal besar.

Pacaran di konteks Indonesia, misalnya, gw asumsikan belum tinggal bareng. Dari tinggal terpisah menjadi tinggal bareng, biarpun kesannya sepele, justru perubahan drastis. Kalau saat pacaran sang kekasih terasa sempurna, hal itu bisa berubah saat melihat kelakuannya tinggal bareng. Dari masalah ngorok, jorok suka ngupil dan meper di mana2, egois gak mau bantu pekerjaan rumah, malas, dll, dll. Banyak kok yang berantem karena ini.

Pacaran adalah antar individu. Menikah adalah antar keluarga. Banyak yang lupa soal ini. Kehadiran ibu mertua yang rewel, saudara ipar yang menyebalkan, peliharaan pacar yang gak pernah suka melihat kita, dll, dll. Variabel tambahan ‘keluarga’ ini membuat ekstrapolasi pacaran ke pernikahan bisa meleset total.

Seks, yang sering ditunggu2 pasangan pacaran yang menolak seks pra-nikah, bisa menjadi sumber bahagia, tetapi bisa juga sumber petaka. Style hubungan seks bisa jadi tidak compatible (elunya konservatif, dianya eksperimental pake borgol, cambuk, panci, dan dongkrak, misalnya…) Ataunya elunya kuat sejam, dia hanya kuat 5 menit.

Uang. Waktu pacaran sih simpel, masing2 punya duit sendiri, elu tugasnya ngebayarin atau terima dibayarin, beres. Saat menikah uang bisa menjadi sumber berantem (dan salah satu penyebab perceraian tersering). Gimana cara ngaturnya, terus biasanya belanja game seenak udel supir metromini, tiba2 sekarang diawasin istri, dll.

Anak tentunya adalah sumber kebahagiaan, no doubt. Tetapi sebagai variabel baru yang sebelumnya, diasumsikan, tidak ada saat pacaran, bisa membuat ekstrapolasi pacaran kembali meleset. Masalah gaya mendidik dan membesarkan, perbedaan prinsip dan kepercayaan (elu maunya anak cinta damai dan pemaaf kepada teman-temannya, sementara prinsip pasangan adalah gampar dulu temen yang mencurigakan – preemptive strike gitu), perbedaan prinsip ngasih uang jajan, dll.

Dan masih banyak lagi variabel-variabel yang tidak ada di dalam fenomena pacaran, yang kemudian muncul di pernikahan. Inilah kenapa gw bilang kita tidak bisa otomatis mengekstrapolasikan enaknya pacaran menjadi jaminan enaknya pernikahan.

Apakah maksudnya gw nulis ini supaya kita jadi pesimis? Nggak sama sekali. Justru maksudnya supaya kita aware akan hal ini dan gak naif asal mengekstrapolasi pacaran ke pernikahan. Kalau saat ini kita sedang asik-asiknya pacaran, semua terasa indah tai kucing rasa cokelat, dan mulai memikirkan serius ke jenjang pernikahan, kita juga harus waspada. Karena tai kucing itu bisa berubah menjadi rasa tai kucing beneran.

Kalau kita waspada, kita bisa: cari tahu lebih banyak dulu tentang pasangan/keluarga kita, membicarakan dulu hal-hal penting sebelum menikah, atau minimal mempersiapkan mental untuk bisa mengerti dan mentoleransi.

Ada pepatah: Fortune favors the prepared (keberuntungan berpihak kepada mereka yang siap). Buat gw: Love favors the prepared. Cinta berpihak kepada mereka yang siap.

Selamat pacaran serius! :D

Operasi Plastik, Emang Kenapa?

Korea, negeri yang sudah sangat maju industri operasi plastiknya. Konon mayoritas artis K-Pop yang kece2 mampus itu karena sudah operasi mata, hidung, dll.

Di Indonesia, operasi plastik rasanya masih ada stigma negatif. Entah itu operasi mata, hidung, payudara, gw suka denger cibiran “Ah, itu kan operasi?”

Sebenarnya, emang kenapa coba kalo cantik/ganteng karena operasi?

Umat manusia selama ribuan tahun di berbagai kebudayaan terbukti selalu berusaha mempercantik diri. Kosmetik home-made, sampai kosmetik yang diproduksi komersial, sudah ada selama ratusan tahun, menunjukkan keinginan mempercantik diri itu sangat manusiawi (dan tidak disebabkan oleh advertising modern abad 20 saja).

“Mengubah fisik” dilakukan oleh kita semua. Kita semua pada dasarnya tidak menerima fisik kita “apa adanya”. Dari menyisir rambut, potong rambut, memakai gel rambut, memakai hand & body lotion, bedak, lipstik, kuteks, mascara, eye shadow, Lasik, dll, semua ini tidak ada bedanya secara esensi dari operasi plastik. Kita tidak puas dengan diri kita apa adanya, dan melakukan hal-hal untuk mengenhancenya.

Jadi kalo esensinya sama, kenapa ya operasi plastik dianggap lebih negatif?

Ada yang bilang, operasi plastik kan “permanen” sifatnya, sementara kosmetik hanya temporary. Tapi kalo kosmetik atau wonderbra-nya dipake setiap hari, ya nggak ada bedanya sih menurut gw. Malahan operasi plastik cara yang jauh lebih efisien untuk mempercantik diri.

Misalnya, topik favorit pria: memperbesar payudara. Gw sejujurnya gak perduli payudara asli atau palsu. Pertama, gw gak bakal tahu juga toket asli vs. palsu. Kedua, PERDULI AMAT asalnya dari mana, toket ya toket. Yang penting ukurannya bukan seperti tumor ganas dan berisiko membuat gw gegar otak, ya payudara implan sih bagus-bagus aja buat gw.

Jadi operasi plastik sih sah-sah aja untuk mempercantik diri, kalo memang ada uangnya, dikerjakan dengan professional, dan tidak membahayakan kesehatan.

Kalaupun ada “isu”, mungkin dari sudut pandang evolutionary psychology. Ketertarikan fisik, konon didrive dari keinginan mencari pasangan dengan gen berkualitas. Selama ratusan ribu tahun spesies kita tidak mengenal titel sarjana, jabatan pekerjaan, dan mobil. Jadi kesehatan fisik mejadi kriteria utama untuk kawin. Kecantikan dan keindahan tubuh adalah indikator visual dari gen yang bagus. Di jaman modern, tentunya fisik bukan satu2nya faktor lagi, tetapi “software” otak kita susah berubah secepat perkembangan jaman. Itulah penjelasan evolutionary biology mengapa kita tertarik pada fisik cantik/gagah/sexy.

Operasi plastik, dan juga kosmetik tebal, sebenarnya “mengelabui” software otak kita. Walaupun kita tidak punya gen mancung, atau gen payudara besar, dengan operasi payudara/hidung kita membuat efek seolah-olah kita punya gen tersebut. Walau mata kita sipit, dengan operasi mata dan bulu mata palsu tahan bom nuklir membuat kita seolah-olah memiliki gen mata bagus. Dll.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal di atas. Tapi mungkin bisa menjadi potensi kaget saat terjadi perkawinan yang menghasilkan keturunan. Gw pernah baca tentang situasi hipotetis sepasang pria dan wanita yang ganteng dan cantik luar-biasa, tetapi hasil operasi plastik, yang memutuskan untuk menikah. Saat anak mereka lahir, maka kagetlah mereka, “ANAK SIAPA INI??!!” Walaupun ini cerita setengah bercanda, tapi sangat masuk akal. Operasi plastik tidak mengubah gen, yang kemudian diturunkan ke anak. 😀

Berbohong Itu Baik

Lagi2 ketemu buku asik!

Judulnya “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”, oleh Ian Leslie

Begitu gw ngeliat premise-nya, gw langsung tertarik. Ini adalah buku yang didedikasikan pada perilaku “berbohong” pada spesies manusia, ditinjau dari berbagai aspek: psikologi, neurologi, budaya, sampai ekonomi. Dan kesimpulan si penulis cukup mengejutkan: berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia mungkin sudah punah. Mengejutkan, karena kita semua dibesarkan dengan paham bahwa “kejujuran” adalah di atas segala-galanya, dan “berbohong” adalah penyimpangan, atau dosa, atau pelanggaran, yang sebisa mungkin harus dilenyapkan. “Bohong putih” pun dipandang sebagai suatu kompromi, situasi khusus dimana “hasil akhir” terpaksa membenarkan perbuatan yang salah (misalnya, sepasang suami-istri mengalami kecelakaan mobil. Sang suami selamat walau luka parah, dan sang istri langsung meninggal. Dokter mungkin berbohong dulu pada sang suami yang sedang dirawat sampai dia cukup ‘kuat’ untuk menerima berita duka tersebut)

Ian Leslie menulis buku ini mirip dengan gaya Malcolm Gladwell. Dia merangkai berbagai kisah dari berbagai sumber, dari jurnal ilmiah, sampai kisah-kisah sejarah unik abad 16, sampai riset otak manusia termutakhir. Salah satu bagian dari buku tersebut yang pengen gw share adalah mengenai sifat manusia yang senang membohongi dirinya sendiri.

Berbagai studi menunjukkan, manusia cenderung meng-overestimate diri mereka sendiri. Kita semua merasa diri kita: lebih pintar, lebih cakep, lebih sehat, lebih bijak, lebih rasional, lebih pintar menyetir, lebih bagus menyanyi, dll dariyang sebenarnya. Dalam sebuah studi, 80% responden merasa kemampuan menyetir mereka di atas rata-rata. Atau lihatlah audisi reality show Idol2an. Banyak yang keliatannya benar2 yakin mereka terlahir sebagai penyanyi, walau suara mereka bisa membunuh kelelawar dari jarak 2 km.

Ada beberapa macam dari “positive illusions”:

1. Exaggerated confidence in our own abilities and qualities. Kita suka meng-overestimate kemampuan atau kualitas diri. Seperti contoh peserta idol di atas. Kita juga merasa diri kita sendiri lebih obyektif, lebih tidak bisa ditipu, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih macam-macam lain dari kenyataan yang sebenarnya.

2. Unrealistic optimism. Atau optimisme yang tak berdasar/tidak realistis. Kita menilai masa depan kita secara tidak realistis. Kita merasa pacar kita adalah untuk selamanya, atau pernikahan kita akan penuh dengan seks dahsyat yang mengguncang pulau Jawa, atau bisnis baru kita akan untung besar 2 menit sesudah diresmikan, kita merokok, makan makanan berkolesterol, dan yakin akan tetap sehat, dll.

3. Exaggerated sense of control. Kita merasa mempunyai kontrol atas hidup kita yang tidak realistis. Kita pede dengan gelar MBA, MM, MLM, dll maka kita akan lebih sukses. Atau kita pede dengan kemampuan sepik kita cewek-cewek akan jatuh bergelimpangan di kaki kita, dll.

Sebagian besar manusia membohongi diri mereka sendiri setiap saat, setiap waktu. Kita semua hidup dalam “ilusi positif” yang jauh dari realita. Tetapi, semua “kebohongan diri sendiri” itu justru penting untuk kelangsungan hidup kita, karena kita menjadi mau untuk hidup. Walaupun gelar sarjana banyak tidak berguna dalam kesuksesan kita, kita kuliah dengan susah payah mengejar nilai yang baik. Walaupun relationships banyak tumbang, kita tetap percaya suatu saat kita akan ketemu soul-mate kita. Walaupun banyak pernikahan berakhir dengan perceraian, kita percaya itu tidak akan menimpa kita. Walaupun tim bola belum pernah masuk World Cup, kita semua berharap suatu saat kita bisa menundukkan Inggris, Itali, Brazil sekaligus. Walaupun 80% dari produk baru berakhir dengan kegagalan, perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menciptakan dan meluncurkan produk baru. Dst, dst.

Apakah ada sekelompok manusia yang realistis, yang tidak hidup dengan ilusi2 positif di atas? ADA! Orang-orang ini punya penilaian yang akurat terhadap kemampuan mereka, terhadap masa depan, dan terhadap kendali mereka atas hidup. Mereka tahu realita yang benar. Para psikiater menyebut orang2 iniclinically depressed (menderita depresi klinis).  Dalam berbagai studi, orang-orang depresi justru menunjukkan persepsi akan realita yang lebih akurat daripada kebanyakan orang.

Ian Leslie menyimpulkan bahwa untuk bisa hidup, maju, dan berusaha, spesies kita harus hidup dalam kebohongan/ilusi yang kita sendiri tidak sadari. Ilusi positif bagaikan wortel yang diikat dan digantungkan di depan si keledai, agar si keledai mau terus bergerak maju. Jika kita terlalu berpijak pada realita justru akan berbahaya. Kita bisa malas menikah, beranak dan meneruskan keturunan. Kita akan malas berinovasi, mencipta, dan berkarya. Dan ujung-ujungnya, spesies ini bisa punah karena kehilangan kemauan untuk hidup.

Makanya gw jadi ngerti kenapa pelatih olah raga harus bisa menciptakan ilusi bahwa atlit binaan-nya adalah yang terkuat di dunia, tak kan terkalahkan. Gw juga ngerti kenapa orang-tua harus meyakinkan anak mereka bahwa ia adalah anak yang cakep, pintar, dan keren (walaupun aslinya kayak blasteran alien). Ilusi (positif), walaupun suatu kebohongan, jauh lebih sehat dari memahami realitas yang sebenarnya.

Menarik banget ya buku ini? :)